Tuesday, March 16, 2010

Bagian IV : PARA GURU

Pagi-pagi sekali sudah terlihat kesibukan orang di Batang Kapeh, ada yang sudah bersiap-siap masak untuk sarapan, mencuci, mandi, jalan pagi sambil menghirup udara segar. Benar-benar suasana terasa tenang dan damai, orang-orang yang tinggal di rumah Wali Bumipun sudah bangun sejak tadi, dan di halaman belakang rumah sudah terdengar suara-suara orang yang sedang berlatih silat. Terlihat Wali Bumi sedang berlatih silat dengan Masnan, sedangkan Kahar dan Basri duduk memperhatikan mereka dari arah teras belakang rumah. Di atas meja kecil dengan tempat mereka duduk sudah tersedia 4 gelas kopi yang mengeluarkan asap mengepul dan 1 kendi berisikan air putih segar untuk mereka nikmati di pagi yang cerah ini. Tak lama Siti keluar dari rumah sambil membawa sepiring pisang goreng dan ketan putih dicampur kelapa dan gula untuk menemani mereka sambil minum kopi. Di belakang Siti, menyusul Aswin yang baru bangun dengan mata yang masih sayu memandang ke halaman belakang melihat ayahnya bersilat dengan paman Masnan.

“Selamat pagi uda Basri dan uda Kahar, apakah tidurnya nyenyak semalam ?” Tanya Siti kepada mereka.

“Selamat pagi juga Siti, wah awak (kamu) terlihat segar dan cantik sekali. Kami bisa tertidur dengan nyaman semalam walaupun sempat juga berpikir tentang mimpi aneh uda Bumi.” Jawab Basri.

“Selamat pagi Siti.” Jawab Kahar,

Hanya perkataan itu yang sanggup keluar dari mulutnya karena dia sedang sibuk meredakan detakan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya, dia takut orang bisa melihat bajunya bergerak akibat debaran jantungnya yang menggila setelah melihat Siti yang pada pagi ini terlihat sangat cantik dan segar seperti yang dikatakan Basri. Mengenakan baju kurung krem lembut dan sarung songket coklat yang sepadan serta rambut yang dikonde kecil dengan anak-anak rambut yang mengitari wajah ayunya membuat gadis ini terlihat sangat cantik, pantas saja gadis ini menjadi salah satu dari wanita tercantik di ranah minang ini. Bahkan Basri yang sudah mempunyai isteri saja dan mencintainya bisa melihat betapa cantiknya dara ini apalagi Kahar yang memang sudah lama mencintai Siti rasanya jantungnya seakan mau meledak melihat senyum manis dari Siti menjawab sapaan mereka. Kisah mereka berdua akan penulis ceritakan pada bab yang lain, tidak kalah serunya juga kisah perjumpaan dan perpisahan mereka.

Tiba-tiba Aswin berteriak,”Wah, ayah kena pukulan paman, yah ayah payah masak dak bisa balas pukul paman di rusuk kiri.”

Teriakan Aswin ini membuyarkan pikiran Kahar mengenai Siti tapi juga mengagetkan mereka dengan pernyataan Aswin tersebut, karena apa yang dikatakan oleh Aswin benar adanya seharusnya Bumi bisa mengatasi pukulan dari Masnan dengan menyerang rusuk kiri Masnan sehingga akan membuyarkan serangan tersebut karena yang bersangkutan buru-buru hendak melindungi rusuk kirinya. Kedua orang yang sedang berlatih itu otomatis menghentikan kegiatan mereka dan memandang Aswin dengan terkejut sekali bahkan Basri dan Kaharpun terlihat sedang memandang bocah bandel itu dengan sama kagetnya.

Sungguh tidak masuk akal anak sekecil itu bisa melihat kelemahan seseorang dari sebuah pertandingan silat, apalagi sang ayah yang ditegur itu malah merasa tidak percaya anaknya bisa mengetahui kelemahannya dalam ilmu silat. Saking penasarannya sang ayah menanyakan kepada anaknya,” Aswin, kenapa kau bisa tahu, ayah harus menusuk tulang rusuk kiri pamanmu?”
 
“Tadi aku disuruh kakek Inal untuk memperhatikan pertandingan ayah dengan paman, lalu kakek menunjukan kelemahan ilmu silat ayah dan paman,” sahut Aswin yang sekarang kelihatan jauh lebih segar dari tadi, matanya berkilat penuh cahaya semangat.

Mereka menjadi maklum karena ada orang pintar yang melihat kelemahan ilmu mereka, jadi setidaknya mereka tidak terlalu malu jika seandainya benar-benar Aswin yang bisa melihat kelemahan itu. Lain halnya dengan Kahar, dia mempunyai pemikiran sendiri, biarpun Aswin dibantu oleh pendekar nomor satu seperti Datuak Inyiak Balang tapi belum tentu dia bisa melihat pertandingan tersebut karena gerakan yang dilakukan oleh kedua orang tadi sungguh cepat sekali kalau hanya dengan mata awam biasa hal itu akan memusingkan kepala mereka karena saking cepatnya gerakan mereka. Tapi Aswin mengatakan tadi bahwa dia disuruh memperhatikan pertandingan mereka dan diberi petunjuk tentang kelemahan kedua pesilat tersebut, itu artinya Aswin bisa mengikuti pertandingan tingkat tinggi tadi dengan matanya. Kahar semakin penasaran dengan kehebatan Aswin, dia jadi ingin menguji sampai di mana kelihaian pendekar nomor satu itu dalam mendidik Aswin sehingga dalam usia semuda ini saja dia sudah bisa menyaksikan pertandingan tingkat tinggi dengan baik sekali, ini bukan sebuah hal yang biasa terjadi, hanya orang-orang yang sudah mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi yang bisa melihat pertandingan tersebut dengan jelas sekali.

“Aswin, paman mau tanya, apa tadi Aswin bisa melihat pertandingan ayahmu dengan paman Masnan?” Tanya Kahar.

“Bisa paman, memangnya kenapa paman ?”

“Apa kamu lihat dengan jelas?”

“Jelas, paman.”

“Kamu ingat dak gerakan yang dilakukan ayah kamu dan paman Masnan?”

“Yah, paman manalah Aswin ingat semua, hanya beberapa saja.”

“Hmmm… bisa dak Aswin peragakan buat paman?”

“Tapi paman, Aswin belum bisa gerakan itu nanti malah tambah salah lagi.”

“Gak apa-apa, paman hanya mau tahu saja seberapa kuat ingatan kamu, boleh kan ?”

“Hmmm, baiklah paman akan Aswin coba.”

Sementara itu yang lain mendengar percakapan antara Aswin dengan Kahar menjadi semakin tertarik, dan merekapun mulai berpikir kenapa anak sekecil Aswin bisa mengikuti pertandingan silat tadi dengan jelas seharusnya hanya orang-orang yang sudah mempunyai tenaga dalam yang tinggi yang bisa melihat karena dengan penyaluran tenaga dalam tersebut ke mata mereka maka mereka bisa melihat pertandingan tingkat tinggi seperti tadi itu. Bahkan Bumi tidak mempercayai pendengarannya bahwa anaknya bisa melihat pertandingan tersebut dengan jelas, dia berpikir anaknya hanya membual saja, makanya dia ingin tahu apakah benar anaknya bisa mengingat gerakan yang dia dan Masnan lakukan selama pertandingan tersebut. Jika terbukti anaknya tidak bisa lakukan gerakan tersebut berarti anaknya telah berbohong dan dia merencanakan untuk menghukum anak bandel ini karena sudah berani berbohong kepada orang tua, kecil-kecil pintar berbohong apalagi sudah tua bisa tambah runyam urusannya nanti. Dia sudah siap dengan pikiran hukuman apa yang pantas bagi anaknya yang sudah berbohong ini.

Aswin dengan baju piyamanya bergerak menuju lapangan tempat tadi ayahnya bersilat, sesampai di sana dia menggerak-gerakan tangan dan kakinya seperti ingin melemaskan otot-otot tangan dan kakinya, terlihat wajahnya sangat santai, tapi anehnya adalah sinar matanya seperti berkilat-kilat kehijauan tanda bahwa otaknya sedang berpikir. Setelah beberapa saat dia melakukan semua itu, tiba-tiba dia mengambil sikap diam membisu dengan merangkapkan kedua tangannya di dada sambil memejamkan matanya dia mulai menarik nafas perlahan-lahan dan membuangnya dengan perlahan juga. Mereka yang melihat gerakan-gerakan yang dilakukannya merasa tertarik sekali, bahkan Masnan mulai merasakan adanya kekuatan lain yang berpusaran di sekitar mereka, tambah lama kekuatan tersebut tambah besar dan bergerak menuju sekeliling Aswin, berputar di sana untuk beberapa saat. Yang lain tidak merasakan hal yang sama dengan Masnan, tapi Basri, Kahar maupun Bumi mulai merasakan akan terjadi hal yang luar biasa sebentar lagi, mereka menjadi waspada karena kuatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dan… Aswin mulai menggerakkan tubuh, tangan dan kakinya, sesuai dengan gerakan yang dilakukan oleh Bumi selama terjadinya pertandingan, yang mengherankan semua gerakan yang dilakukan oleh Aswin sangat mirip sekali dengan gerakan yang dilakukan oleh ayahnya bahkan walaupun masih kelihatan kaku tapi sungguh sudah memadai sekali. Bumi merasa sangat heran sekali karena dia merasa tidak pernah mengajari ilmu silat kepada anaknya, baru akhir-akhir ini saja dia meletakan dasar-dasar silat kepada anaknya tapi belum berkembang sampai sejauh ini. Aswin melakukan semua gerakan ini dengan wajah berseri-seri gembira seperti seolah-olah dia sedang bermain-main saja, matanya terlihat berkilat-kilat sekali-kali seperti mengeluarkan sinar kehijauan. Orang yang melihat ini menyangka mata anak itu berkilat karena pantulan sinar matahari pagi yang membias pohon-pohon hijau yang ada di sekitar lapangan tersebut. Tapi bagi Masnan itu merupakan sebuah hal yang menakjubkan sekali, dia menjadi teringat perkataan gurunya bahwa orang yang bisa mengeluarkan kilat sinar kehijauan dari matanya itu menandakan bahwa dia orang yang istimewa yang memang ditakdirkan untuk menjadi orang yang luar biasa dalam ilmu kebatinan nantinya. Tanpa perlu bersusah payah lagi dia secara otomatis mempunyai dasar kekuatan kebatinan dalam dirinya yang mana orang lain harus memupuknya setengah mati dan makan waktu bertahun-tahun tapi orang tersebut tidak perlu melakukan hal tersebut, hanya diajarkan sedikit saja dia akan dengan cepat sekali menguasainya bahkan dengan dasar yang dia punya dia bisa mengembangkannya lebih hebat lagi.

Bahkan konon kabarnya dengan larikan sinar mata seperti itu dia bisa membunuh dengan membakar hangus bangsa jin, setan, lelembut, siluman dan iblis dengan sekali pandang. Sedangkan terhadap manusia, tidak menyebabkan dia seperti bangsa jin hangus terbakar tapi bisa membuat mereka berhalusinasi yang menyebabkan kematian mereka seperti mereka bisa menusuk diri mereka sendiri setelah mereka memandang mata tersebut dan mendengar perintah dari si pemiliknya. Semakin tajam terlihat kilatan sinar hijau di mata orang tersebut akan semakin kuat tenaga batinnya, karena itu menandakan yang bersangkutan sudah bisa mengontrol tenaga batinnya dengan sangat baik, bisa menggunakannnya kapan saja dan di mana saja. Sungguh kekuatan batin yang sangat menggiriskan sekali, kalau di salah gunakan akan berakibat membahayakan terhadap lingkungan sekitarnya.

Masnan yang tenggelam dalam pikirannya tidak menyadari bahwa Aswin sudah selesai memperagakan gerakan silat ayahnya waktu melawan dirinya, sekarang Aswin sedang bersiap-siap mau menirukan gerakan yang dilakukan oleh Masnan. Kahar segera menyenggol siku Masnan untuk melihat apa yang dilakukan oleh Aswin, Masnan terkejut dan tersadar dari perenungannya tadi dan memandang Kahar untuk menanyakan apa maksudnya, Kahar menjawab dengan memajukan dagunya ke arah lapangan. Alangkah terkejutnya Masnan melihat Aswinpun dapat menirukan gerakan silatnya dengan baik walau masih terlihat kaku, tapi semua gerakan tersebut benar sesuai dengan gerakan yang dilakukan Masnan ketika melawan Bumi. Basri lebih terkejut lagi dengan mengucek-ngucek matanya dia memandang Aswin lalu Masnan bergantian dengan perasaan tidak percaya melihat pemandangan itu. Dia merasa benar-benar tidak percaya Aswin bisa melakukan hal itu, tadinya waktu Aswin melakukan gerakan ayahnya dia berpikir bahwa sang ayah pasti pernah mengajarkan teori silatnya kepada anaknya walaupun belum pernah praktek, tapi kini anak tersebut bisa melakukannya dengan mantap dan nyaris sebaik yang dilakukan oleh Masnan membuat dia mau tidak mau harus mempercayai matanya.

Lain lagi dengan pemikiran Bumi setelah dia dikejutkan dengan kepandaian anaknya menirukan gerakan silatnya kini dia lebih dikejutkan lagi karena anaknya bisa meniru juga gerakan yang dilakukan oleh Masnan, sempat dia tidak mempercayai semua ini. Tapi setelah dia pikir dan renungkan kembali percakapan tadi, dia sadar guru anaknya ada di sekitar mereka tentu sang guru yang membantu muridnya untuk bisa mengingat semua gerakan silat, mulailah dia tenang karena semua sudah masuk ke logikanya ibarat bermain puzzle dia sudah menempatkan puzzle terakhir pada tempatnya maka semua sudah sesuai dengan logikanya dan ini semua masuk akal serta tidak mengherankan lagi baginya karena dia tahu guru anaknya merupakan pendekar nomor satu di ranah minang ini tentu saja dibandingkan dengan dia, baik ilmu silat dan tenaga dalamnya jauh sekali bedanya. Dan sewajarnya sang guru bisa memberi petunjuk kepada muridnya untuk melakukan gerakan silat yang dia dan Masnan lakukan tadi. Mulai dia dengan tenang dan bibir tersinggung senyuman memandang anaknya bersilat, tapi biar bagaimanapun dia bangga juga walau mendapat petunjuk dari gurunya, anaknya bisa melakukan semua gerakan tersebut tanpa salah sedikitpun seperti seolah-olah anaknya pernah melatih ilmu-ilmu mereka walau belum sempurna. Padahal anaknya baru sekali ini melihat gerakan silat Masnan, kalau dirinya mungkin saja anaknya sudah pernah lihat gerakan yang dia lakukan waktu melatih muridnya yang lain, tapi kalau dia boleh jujur ilmu barunya yaitu “Tinju Bumi Tendangan Maut” merupakan sebuah kombinasi ilmu silat yang mengandalkan kecepatan kaki dan tinju yang belum pernah dia perlihatkan kepada orang lain, hari ini baru pertama kali dia keluarkan karena dia ingin menguji keampuhan dari ilmu tersebut. Dan ternyata anaknya mampu menirunya dengan sangat baik sekali.

Terdengar seruan kaget dari Masnan, ketika Aswin mulai melakukan gerakan silat yang terakhir digunakannya ketika melawan Bumi. Masnan mengeluarkan ilmu barunya bernama “Hempasan Angin Terbangkan Awan”, sebuah ilmu yang hebat sekali yang terpaksa dikeluarkannya ketika dia kewalahan menahan serangan ilmu baru dari Bumi. Ilmu ini didasarkan dengan tenaga dalam yang lembut untuk menahan tenaga dalam keras yang menyerang, karena ilmu baru dari Bumi didasarkan pada tenaga dalam keras (atau dalam ilmu silat Cina disebut tenaga Yang). Ilmu ini terlihat tenang dan lembut seakan tidak bertenaga tapi di balik itu kekuatan mendorongnya sangat kuat sekali, Bumi yang tidak menyangka di balik kelembutan ilmu itu tersembunyi tenaga dorongan yang dasyat, terkejut sekali dan ini yang menyebabkan dia telat mengambil tindakan untuk antisipasi gerakan dorongan tadi sehingga dia bisa terpukul oleh Masnan.

Masnan terkejut sekali dengan gerakan yang dilakukan Aswin karena menurut hematnya ilmu ini tidak gampang sekali dikuasai banyak perubahan dan perkembangan dalam ilmu ini sehingga bagi anak kecil seusia Aswin seharusnya tidak bisa menguasainya dengan cepat sekalipun di bawah bimbingannya langsung. Dia membutuhkan waktu 9 tahun untuk bisa mengembangkan ilmu itu sedemikian rupa, tapi Aswin dengan sekali melihat saja dia bisa melakukan gerakannya sampai ke gerakan 39 selanjutnya dia tidak meneruskan karena memang di jurus ke 39 lah pertandingan antara Bumi dan dia berakhir. Benar-benar anak yang mengagumkan sekali dalam usia 5 tahun dia bisa menghapal dan meniru semua gerakan yang dilakukan oleh 2 orang tanpa kesalahan sedikitpun. Masnan, Kahar dan Basri menjadi kagum sekali pada Aswin, mereka mengeluarkan pujian atas kehebatan Aswin. Baru Bumi mau buka suara menyanggah pujian teman-temannya untuk anaknya dengan memberitahukan kepada yang lain bahwa guru anaknya ada di sekitar mereka, terdengar suara Aswin berseru ke arah pohon cemara yang besar dan rindang di belakang lapangan tersebut.

“Kakek, bagaimana gerakan silatku, aku mampukan hafal dan meniru gerakan silat ayah dan paman? Tadi kakek bilang mau taruhan sama aku bahwa aku tidak bisa menghafal dan meniru mereka berdua, ternyata aku mampu berarti aku menang yah kek… Horeeee… aku menang….” Kata Aswin dengan gembira sambil berjingkrak-jingrak kegirangan. “Itu artinya aku bisa menagih hadiah kemenanganku pada kakek….cihuyyy !”

Terdengar jawaban dari arah pohon tersebut, “Bagus sekali. Kamu memang bisa melakukannya, baiklah kakek akan memberikan kamu hadiah, kamu mau apa dari kakek.”

Sungguh aneh sekali tidak terlihat ada orang di sekitar pohon itu, mereka berusaha mengerahkan mata mereka ke arah pohon supaya bisa melihat wajah pendekar nomor satu itu tapi tetap saja mereka tidak bisa melihatnya. Masnan memejamkan matanya dan mengerahkan tenaga batinnya untuk bisa membantu matanya melihat orang yang duduk di sekitar pohon tersebut. Setelah itu dia membuka matanya dan melihat memang di ujung dahan cabang pohon yang agak tinggi dia melihat seorang pria berkumis misai putih sedang duduk tenang seakan tidak takut akan dahan tersebut akan patah akibat berat tubuhnya, wajah pria tersebut tidak terlihat jelas akibat dia duduk membelakangi matahari. Segera Masnan merangkapkan kedua tangan di dadanya dan mengarahkan pandangan matanya ke arah pria tua itu, “Salam Sejahtera dan selamat bertemu, Datuak.” Masnan menerka inilah dia si pendekar nomor satu ranah Minang, Datuak Inyiak Balang sehingga dia langsung menyebut pria itu dengan sebutan datuak.

Yang lain terbengong melihat ucapan dan gerakan Masnan ke arah pohon itu, bahkan Bumi mencolek Masnan,”Masnan, memangnya kau bisa lihat datuak itu? Aku tidak melihat adanya orang di sekitar pohon itu?” katanya.

“Ayah, masak tidak bisa melihat kakek ? Itu orangnya sedang duduk di dahan pohon sebelah kiri itu.” Kata Aswin keheranan karena ayahnya tidak bisa melihat kakeknya.

“Kalian semua segera kerahkan tenaga batin kalian salurkan ke mata kalian lalu lihatlah ke arah pohon itu kembali.”

Segera semua melakukan yang disuruh oleh Masnan, setelah itu mereka memandang ke arah pohon dan sekarang mereka memang melihat ada orang di sana tapi tidak terlihat jelas wajahnya. Segera mereka melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Masnan memberikan salam kepada orang tua itu.

“Salam sejahtera untuk kalian semua. Maaf jika aku mengganggu kesenangan kalian, aku si orang tua ini paling senang melihat pertandingan silat jadi tanpa sadar sudah datang ke sini dan mencuri lihat pertandingan itu.”

“Datuak, kenapa tidak turun dan singgah ke rumah kami yang buruk ini, sekalian memperdalam perkenalan kita karena kami sudah lama mengagumi anda.”

“Terima kasih Bumi, bukan maksud hatiku untuk menampik tawaranmu itu, hanya belum saatnya kalian lebih mengenal aku, ini kebetulan saja karena aku memang suka iseng melihat orang yang bersilat sehingga aku hadir di sini. Kalian juga harus mengerahkan tenaga batin untuk melihatku dikarenakan memang jasadku tidak ada di sini, yang hadir hanya rohku saja. “ terdengar senyuman dalam jawaban itu.

“Bagaimanapun sebagai ucapan terima kasihku pada undangan kalian, aku akan memberikan sepatah dua patah kata untuk kamu dan Masnan?”

“Tentu saja boleh, kami senang sekali jika anda mau memberikan petuah bagi kamu yang muda ini,” sahut Bumi dengan cepat.

“Benar datuak silahkan saja, kami siap mendengarnya, “ kata Masnan.

“Baiklah kalau begitu aku tidak perlu basa basi lagi, untukmu Bumi, belajarlah sifat unsur tanah dengan baik, perhatikanlah bagaimana tanah menjadi bagian dari kejadian alam sehingga kamu akan mengerti perbaikan apa yang harus kamu lakukan pada ilmumu yang terakhir itu. Dan aku melihat kamu harus memperdalam ilmu kebatinanmu juga, karena unsur tanah dalam ilmu terakhirmu sangat bagus sekali untuk digunakan ketika melawan bangsa kegelapan. Sudah saatnya aku memberikan kepadamu, buku yang dititipkan guruku untuk diberikan kepadamu, ilmu dalam buku ini sangat bermanfaat sekali buatmu untuk melatih muridmu melawan bangsa kegelapan. Nama ilmu itu Jubah Gaib Tanpa Bayangan, ilmu ini akan membantu kamu untuk memahami ilmu barumu, jika kamu sudah mengerti dengan baik, mulailah lebur ilmu barumu ke dalam ilmu Jubah Gaib Tanpa Bayangan sehingga ilmu kamu akan meningkat dengan sangat pesat sekali. Ilmu ini bisa kau gunakan untuk manusia dan juga bangsa kegelapan, setelah kau hafal dan mengerti isi buku ini maka kamu jangan heran buku itu akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 3 bulan dari hari pertama kamu mulai membuka halaman pertama buku tersebut, jadi saranku hafal dan pelajarilah baik-baik isi buku ini setelah itu baru kau praktekkan. ”
 
Tiba-tiba terdengar desiran angin yang bergerak cepat ke arah Bumi, segera dia membuka tangannya bermaksud untuk menangkis angin tajam itu, tapi terdengar datuak berkata,” Buka tanganmu Bumi dan terimalah buku ini.”


Segera Bumi melakukan permintaan beliau, dan baru dia membuka tangannya, tiba-tiba di tangannya sudah ada sebuah buku tipis bersampul coklat. “Simpan dan pelajarilah buku ini baik-baik, didiklah muridmu nanti dengan dasar-dasar ilmu yang ada di buku itu dan ilmu barumu karena waktumu untuk mendidik dia tidak lama hanya 5 tahun saja jadi kamu harus serius mendidiknya dengan kedua ilmu pamungkas ini saja, ditambah ilmu lain yang berhubungan dengan pesan yang diberikan kakek guruku.”

Bumi keheranan dengan pernyataan datuak, mengapa beliau bisa tahu mengenai mimpi anehnya itu, tapi kemudian dia ingat dengan siapa dia berhadapan dan dia menjadi maklum. Segera buku itu disimpan ke dalam kantong bajunya dengan hati-hati sekali dan berjanji dalam hati untuk sungguh-sungguh mempelajarinya.

“Terima kasih banyak datuak, kepercayaan datuak pada saya tidak akan saya sia-siakan dan pesan kakek pasti akan aku laksanakan dengan sebaik mungkin.” kata Bumi dengan penuh hormat.

“Untukmu Masnan, aku lihat ilmumu sudah berkembang lebih baik tapi terlalu banyak perubahan gerak yang kau lakukan untuk itu saranku perhatikanlah unsur angin di sekelilingmu dan lihatlah bagaimana mereka bergerak mendorong awan dengan lembut sehingga manusia tidak merasakan bahwa awan itu sudah berpindah tempat. Jika kamu sudah bisa melakukan hal itu dengan baik, maka kamu tidak memerlukan perubahan gerak sebanyak yang sekarang bahkan dengan jurus yang simple dan tidak banyak perubahan akan lebih efektif untuk mengalahkan musuhmu dengan cepat. Aku juga tahu ilmu kebatinanmu paling tinggi diantara teman-temanmu, oleh karena itu dalam waktu dekat ini ada seorang pertapa sakti yang akan datang untuk membantumu dalam ilmu kebatinan, saranku minta padanya untuk mengajarkan ilmunya yang bernama Halimun Senja Pengejar Roh, lalu kau gabungkanlah ilmu itu dengan ilmu barumu itu agar bisa membantu dalam menghadapi bangsa kegelapan.”

“Terima kasih datuak, aku pasti akan melakukan seperti yang datuak sarankan.” Kata Masnan juga dengan perasaan hormat yang mendalam.

Mendengar uraian dari Datuak ini, sebenarnya mereka berdua merasa tergetar hatinya karena anjuran dari Datuak benar-benar membantu mereka membuka mata mereka akan kelemahan dari ilmu masing-masing. Hanya dengan perenungan sebentar saja, mereka sudah merasakan manfaatnya dan menyadari bahwa mereka harus kerja keras dan berusaha lebih tekun lagi untuk menyempurnakan ilmu baru tersebut. Mereka tidak sadar telah berdiam diri cukup lama untuk merenungkan apa yang dikatakan oleh Datuak. Mereka berjanji dalam hati untuk melaksanakan sesuai dengan saran datuak dan diam-diam mereka bersyukur sekali ternyata secara tidak terduga mereka mendapat tambahan ilmu sakti lagi untuk menambah kedalaman ilmu silat dan batin mereka.

Yang lain mendengarkan uraian Datuak, mulai juga memikirkan perkembangan ilmu silat mereka, seandainya saja mereka mendapat petunjuk juga dari datuak mungkin ilmu mereka juga akan berkembang seperti kedua teman mereka itu. Lain lagi yang menjadi pemikiran Aswin, dia mulai tidak sabar dengan semua ini, ingin segera mendapatkan hadiah dari kakek Inal.

Karena itu dia mulai dengan tidak sabar merengek kepada datuak,” Kakek, mana hadiah yang kakek janjikan untukku, aku mau pergi mandi, badanku sudah terasa lengket karena keringat.”

“Anak nakal, kau memang tidak sabaran sekali. Baiklah, buka mulutmu sekarang.”

“Cihuy, aku dapat buah enak lagi, baik kek. Ahhhh…”

Baru dia buka sebentar mulutnya terasa ada sebuah benda masuk ke dalam mulutnya dan rasa manis mengalir di lidahnya, langsung dia melonjak kesenangan.

“Terima kasih kakek, sekarang aku mandi dulu yah kek,” langsung Aswin berlari ke dalam rumah untuk pergi mandi, dan Siti mengikuti bocah nakal itu karena kuatir dia akan kelamaan main air sehingga menyebabkan banjir di seluruh ruangan mandi.

Adapun benda yang dimasukan ke dalam mulut Aswin oleh Datuak, adalah buah langka yang bernama kaluang darah yang berasal dari Rimbo Kaluang, sebuah hutan yang sangat mengerikan untuk dikunjungi oleh manusia biasa. Banyak orang yang sudah datang ke tempat ini tidak ada satu juga yang kembali, baik pendekar-pendekar dari ranah minang sendiri bahkan sampai dari luar seperti pendekar dari tanah Java, pendekar dari Borneo pernah mendatangi Rimbo Kaluang tapi tidak satu juga kembali dari sana. Mereka seperti ditelan bumi dan tidak pernah kelihatan bayangannya lagi, sanak saudara dan teman mereka sudah menunggu di luar Rimbo tapi sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak juga ada yang keluar. Ada yang coba masuk untuk mencari tapi tim pencari tersebutpun sepertinya hilang ditelan bumi, akhirnya tidak ada satu orangpun berani ke sana lagi. Sebenarnya para pesilat hendak memasuki wilayah Rimbo Kaluang ini dikarenakan ada legenda mengenai daerah ini.

Menurut berita yang beredar di dunia persilatan bahwa di rimbo ini terdapat buah langka yang bernama kaluang darah makanya rimbo ini disebut Rimbo Kaluang. Buah ini sangat berkhasiat luar biasa sekali, selain membuat yang memakannya kebal terhadap racun tapi juga menambah tenaga dalam serta memberi kekebalan tubuh yang baik sekali terhadap penyakit-penyakit yang sering menimpa manusia seperti demam, flu, batuk dan lain-lain. Tapi makan buah ini tidak bisa sembarangan harus ada aturannya yang hanya diketahui jika mereka menemukan istana Damar Pelangi di dalam rimbo itu. Barang siapa yang bisa menemukan istana tersebut dan menguasai pedang Damar Pelangi maka orang itu akan bisa menjadi pemimpin dunia persilatan. Di dalam istana itu sendiri tersimpan 5 senjata maut yang pernah menggetarkan di dunia persilatan dan dunia kegelapan pada masa dulu yaitu Tongkat Kayu Kaluang, Lacuik (Cambuk) Bara Mentari, Saluang Kemala Biru, Golok Sabit Hitam, dan terakhir adalah Pedang Damar Pelangi. Mengenai senjata-senjata ini akan penulis kisahkan keistimewaannya setelah senjata itu dikuasai oleh tuannya.

Selain kelima senjata tersebut, di situ juga tersimpan 2 buku yang hebat sekali yaitu 1 buku silat yang menuliskan semua inti sari dari ilmu silat yang ada di dunia. Keistimewaan buku ini selain menuliskan inti sari ilmu silat juga mengajarkan cara menambah tenaga dalam dengan cepat tanpa perlu sampai berpuluh-puluh tahun jika sudah mengetahui rahasianya. Anehnya bagi yang membacanya bisa berbeda-beda cara mereka menafsirkan arti sajak-sajak yang digunakan sebagai petunjuk atas ilmu silat tertinggi dalam buku itu, sehingga peningkatan ilmu silat dan tenaga dalam merekapun jadi berbeda pula setiap orangnya tergantung pada kemampuan dan bakat yang bersangkutan. Dan 1 buku lagi berisikan cara-cara meningkatkan ilmu kebatinan tingkat tinggi dan mantra-mantra yang bisa digunakan untuk melawan bangsa kegelapan serta kekuatan dan kelemahan dari masing-masing jenis bangsa kegelapan itu.

Ditambah lagi ada berita yang lebih membuat orang tambah berbondong-bondong kesana, adanya harta karun yang disimpan dalam istana itu. Bahkan istana itu sendiri juga sangat indah bermandikan sinar warna warni seperti pelangi di saat matahari bersinar, dan pada malam hari jika mempunyai tenaga batin yang kuat akan bisa juga melihat istana itu di kelilingi sinar yang sangat indah sekali. Hanya orang yang berjodoh saja yang bisa memasuki istana ini dan mengambil ke 5 senjata serta mempelajari buku ajaib itu. Bahkan jin-jin, siluman, dan semua kuasa kegelapan yang ada di dalam rimbo itu tidak bisa mendekati istana Damar Pelangi, seakan-akan ada dinding kekuatan yang hebat sekali memagari istana ini sehingga siapapun tidak bisa memasukinya. Setiap bangsa kegelapan hendak mencoba menembus dinding kekuatan itu selalu hangus terbakar, bahkan untuk iblis yang mempunyai tingkatan tertinggi sekalipun tidak bisa memasukinya, begitu juga dengan manusia sekalipun dia merupakan pendekar jempolan jika tidak berjodoh dengan istana ini maka akan kena luka dalam yang parah sekali sehingga menyebabkan kematian akibat hantaman dari dinding kekuatan Damar Pelangi.

Jadi kenapa buah ini bisa berada di tangan Datuak Inyiak Balang dan diberi makan kepada Aswin ? Ini karenakan Datuak berhasil memasuki Rimbo Kaluang dan memasuki istana Damar Pelangi tersebut, memang beliau beruntung sekali bisa masuk ke istana itu tapi sayang sekali beliau tidak berjodoh dengan ke 5 senjata dan buku silat yang ada di sana serta harta karun yang ada karena untuk membuka pintu yang menyimpan harta karun itu dibutuhkan lima senjata berikut dengan tuannya yang sudah dilatih dengan buku silat yang tersimpan di sana. Biarpun begitu tetap tidak sia-sia Datuak masuk ke istana itu, di ruang utama bangunan itu di dindingnya tertulis syair-syair yang indah dan gambar-gambar bagus, jika orang yang melihatnya sudah mempunyai ilmu tenaga dalam dan batin tingkat tinggi akan bisa melihat bahwa gambar-gambar tersebut mengandung maksud karena di sana tergambar cara dan akibat jika memakan buah kaluang darah tanpa petunjuk seperti yang tertera di gambar tersebut. Sedangkan syair-syair itu ternyata menyimpan makna untuk 2 ilmu silat tingkat tinggi yaitu Ilmu Cakar Maut Harimau Dewa dan Ilmu Lompatan Kayangan Harimau Setan yang memang sudah sesuai sekali dengan dasar ilmu yang sudah dimiliki oleh Datuak. Ilmu tadinya diperkirakan sudah musnah bersama menghilangnya Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena kedua ilmu merupakan salah satu dari ilmu pamungkas yang dimiliki oleh kedua manusia sakti ini.

Dengan kedua ilmu inilah maka Datuak Inyiak Balang bisa menduduki sebagai tokoh nomor satu di dunia persilatan ranah minang, bahkan menjadi tokoh terkenal mumpuni juga di Tanah Java dan Borneo . Sedangkan mengenai buah kaluang darah yang tergambar di lukisan-lukisan yang ada di dinding, menggambarkan bahwa buah ini di satu sisi sangat baik sekali dimakan kalau tahu cara memakannya tapi jika tidak akan terjadi sebaliknya, barang siapa yang memakannya tanpa aturan maka semua lubang yang ada di tubuh orang tersebut akan mengeluarkan darah karena semua urat tubuhnya yang mengalirkan darah akan pecah akibat sel-sel darahnya membesar sehingga uratnya tidak kuat menampung membesarnya sel-sel tersebut. Buah Kaluang Darah bentuknya seperti donut kecil sekali sebesar buah ceri dan berwarna seperti darah bahkan tetesan airnya saja berwarna merah seperti darah manusia, berbau harum dan rasanya manis yang enak di lidah. Di dalam Rimbo Kaluang ini tanaman ini tumbuh subur hanya di taman belakang istana Damar Pelangi dikelilingi dengan rimbunan bunga racun Asmara Hitam. Tanaman ini hanya berbuah 10 biji dalam 7 tahunnya, jika sudah dipetik buah matangnya maka harus menunggu 7 tahun lagi baru dia berbuah lagi.

Buah Kaluang Darah ini dapat dimakan oleh anak kecil berusia 3 tahun dimana seluruh sel-sel darahnya belum terlalu terkontaminasi dengan zat-zat yang masuk kedalam tubuhnya tapi di satu sisi sel darahnya juga harus mempunyai sistem kekebalan bagus ini bisa dites dengan cara mengeluarkan darah anak itu dan mencampurnya dengan tetesan air rendaman buah itu, jika berwarna tetap merah muda maka aman untuk dimakan tapi jika berubah menjadi merah darah yang pekat sekali maka berarti anak itu tidak bisa makan buah kaluang darah. Sekali sudah makan buah kaluang darah maka otomatis system tubuh si anak akan bisa menerima buah ini sebagai makanan dan mencernanya untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Hanya buah ini boleh dimakan 3 bulan sekali 1 butir tidak bisa dimakan sekaligus banyak karena tidak berefek bagus juga bagi yang memakan kalau dia kuat dia akan bertahan tapi jika tidak akan langsung meninggal dengan tubuh yang meledak akibat sel-sel darahnya membesar.

Dan bagi orang dewasa, buah kaluang ini juga harus hati-hati memakannya, hanya boleh dimakan separuh saja setiap 6 bulan sekali artinya hanya boleh 1 buah 1 tahun, jika memakan lebih dia akan langsung meninggal saat itu juga karena reaksi sel-sel darah merah pada tubuh orang dewasa lebih cepat bereaksi terhadap buah ini dibandingkan anak-anak. Dan pertama kali Datuak Inyiak Balang datang ke istana tersebut hampir 30 tahun yang lalu dan saat itu buahnya sudah membusuk akibat kematangan dan sambil dia belajar ilmu silat yang ada di istana serta mempelajari riwayat istana dari lukisan yang ada di dinding, dia menunggu juga pohon kaluang berbuah. Tapi sayang belum sempat dia menikmati buah kaluang pada tahun kelima setelah kedatangannya dia menerima wangsit dari gurunya untuk menghancurkan kekuatan jahat yang mulai berkembang di ranah minang. Membutuhkan waktu hampir 4 tahun untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi saat itu. Saat dia balik ke istana buah itu sudah membusuk lagi, kembali dia bertapa di istana sambil menunggu buah kaluang matang. Kembali dia mendapat wangsit dari gurunya untuk pergi ke tanah Java dan Borneo, akhirnya setelah berkelana hampir 10 tahun lamanya, kira-kira 10 tahun yang lalu dia kembali ke istana untuk semakin memantapkan ilmunya dan menunggu kematangan buah. Untunglah ketiga kali ini dia berhasil mendapat buah kaluang yang matang sebelum gurunya memberi tugas baru untuknya.

Setelah buah matang sesuai petunjuk harus dipetik tidak dengan tangan tapi dengan menggunakan kain sutra hitam yang ada di meja sembahyang ruang dalam, karena kalau menggunakan tangan, akan kena racun bunga Asmara Hitam yang sangat berbahaya itu, kain ini digunakan untuk menutupi rimbunan bunga dan menjejakan kaki di atas kain lalu menggunakan ujung kain memetik buah kaluang, itu artinya si pemetik harus memiliki ilmu peringan tubuh yang bagus sekali sehingga bisa berdiri di atas rimbunan bunga yang kecil-kecil berwarna abu kehitaman itu. Setelah mendapatkannya di bungkus dengan kain sutra itu dan direndam dalam air kolam yang ada di tengah istana selama 10 hari, air itu sangat dingin sekali dan berkhasiat mengawetkan buah kaluang serta membersihkan serbuk racun bunga Asmara Hitam yang telah dinetralisir oleh kain sutra hitam itu. Baru kemudian bisa dipegang oleh tangan manusia dan dimakan. Jika ingin buah ini awet tidak rusak bertahun-tahun maka buah ini harus direndam dengan air kolam, dan kebetulan pada saat Datuak berkeliling melihat istana sampailah dia di dapur istana di sana dia melihat ada sebuah tabung kecil yang terbuat dari logam yang berwarna kebiru-biruan yang indah sekali karena tertarik dia mengambil tabung itu dan memeriksanya. Tabung itu terasa dingin sekali tapi berkat tenaga dalamnya yang hebat dia tidak merasakan hawa dingin dari tabung tersebut. Buah Kaluang yang telah dipetiknya disimpan di dalam tabung berikut dan diisi dengan air kolam sehingga suhu air kolam tersebut tetap terjaga dalam tabung itu. Dan kain sutra hitam yang sudah digunakan harus dilipat kembali dan diletakkan ke meja sembahyang kalau ini tidak dilakukan maka penggunanya akan hidup dalam bahaya karena roh jahat yang menyertai kain itu akan selalu mengganggunya sampai mati.

Kain sutra hitam itu sendiri entah terbuat dari apa, sangat kuat sekali dan lentur serta rapat sekali tenunannya, sehingga terlihat sangat hitam sekali bahkan bila ditaruh di atas cahaya, dan cahaya tidak bisa menembus kain itu, oleh karenanya kain itu disebut Kain Tenun Siluman. Jika tidak ada cahaya maka kain ini benar-benar tidak terlihat sama sekali, sepertinya menyatu dengan kegelapan. Bangsa siluman, jin dan setan mengincar barang ini karena konon kabarnya ratusan tahun yang lalu kain ini merupakan kain kesayangan dari Maharaja Kegelapan yang paling sakti mandraguna dibandingkan dengan maharaja yang lain, yang dililit ke sekujur tubuhnya. Diyakini apabila mereka mendapatkannya maka mereka akan mendapatkan kesaktian dari Maharaja itu dan diangkat sebagai Maharaja Kegelapan yang baru karena kain ini merupakan salah satu symbol penguasa Kerajaan Kegelapan. Sedangkan bunga Asmara Hitam merupakan bunga lambang kerajaan Kegelapan, oleh karena itu bunga ini bisa dinetralisir dengan menggunakan kain Tenun Siluman.

Sama juga dengan 5 senjata utama itu hanya yang berjodoh saja bisa menggunakan kekuatan dari kain Tenun Siluman ini, manusia hanya bisa menggunakannya sebagai alat untuk mengambil buah kaluang darah, lain dari itu tidak ada gunanya sama sekali, sama seperti kain biasa, bahkan yang tidak kuat imannya bisa kerasukan roh jahat atau mati dengan tidak sempurna alias menjadi budak bangsa kegelapan.

Setelah hampir 7 tahun Datuak bertapa di sana, dia mendapat wangsit dari gurunya mengenai Aswin, maka keluarlah dia dari Rimbo Kaluang untuk mencari anak yang akan dilahirkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan. Petunjuk gurunya juga yang menyuruh untuk memberikan buah kaluang darah kepada Aswin, karena buah ini benar-benar sangat berkhasiat sekali melawan racun, bahkan buah ini bisa menetralisir racun bunga asmara hitam. Rendaman buah kaluang darah bisa memunahkan bermacam-macam racun tapi dibutuhkan setetes darah dari orang yang sudah makan 2 atau lebih buah kaluang darah untuk bisa memunahkan racun bunga asmara hitam. Karena kelak Aswin akan memerlukan kekuatan buah kaluang darah untuk melawan sang Maharaja Kegelapan yang menggunakan Ilmu Tebaran Bunga Asmara Hitam. Makanya sejak bocah itu berusia 3 tahun setiap 3 bulan sekali Datuak memberikan buah ini kepada dia untuk dimakan, dan bocah ini sangat menyukainya, selalu merengek-rengek memintanya karena Datuak pusing menolak permintaan bocah bandel ini maka dibuatlah peraturan setiap Aswin bisa melakukan sesuatu yang hebat dalam 3 bulan maka dia diberikan buah kaluang ini. Dasar bocah kecil yang tidak mengerti apa-apa dia menyanggupi syarat tersebut tapi keesokannya dia lupa dengan penuh kesabaran akhirnya datuak berhasil membuat bocah ini mengerti arti perjanjian mereka.

Dan hari ini sebenarnya sudah tiba waktunya Aswin harus memakan buah itu lagi dan kebetulan terjadi perestiwa itu maka sebagai imbalan dari perbuatan hebatnya dia diberikan hadiah buah kaluang darah oleh gurunya. Dia senang sekali dengan usianya yang bertambah, semakin dia mengerti bahwa dia harus melakukan sesuatu yang berkenan di hati gurunya agar bisa dapat hadiah buah enak itu dalam waktu 3 bulan sekali.

Kembali kepada Bumi dan teman-teman serta Datuak Inyiak Balang, setelah memberi petunjuk kepada Bumi dan Masnan, segera Datuak ingin berlalu dari situ tapi belum sempat dia berlalu, Kahar buru-buru bertanya kepada beliau,”Datuak, jika berkenan bersediakah Datuak juga memberi petunjuk kepada saya mengenai ilmu silat saya?”

“Kenapa harus saya, anak muda? Bukannya kamu sendiri sudah merupakan orang yang sudah diakui kesaktiannya?”

“Datuak, saya sangat menghormati anda dan sangat menghargai pendapat dari datuak. Saya ini apalah, tidak ada hebatnya hanya kebetulan saja ilmu saya lebih baik dari lawan saya selama ini, kalau saya melawan datuak sudah pasti saya kalah jauh. Oleh karena itu saya ingin sekali mendengar pendapat Datuak mengenai ilmu silat saya,” kata Kahar penuh dengan kerendahan hati.

“Saya juga datuak, saya ingin sekali kalau memungkinkan datuak bisa memberi saran untuk ilmu silat baru saya ciptakan akhir-akhir ini,” kata Basri.

Dengan menghela nafas, orang tua itu berkata,”Baiklah, aku akan membantu kalian karena kalianpun membawa misi untuk membantu mendidik anak-anak yang kelak akan menjernihkan kegelapan yang akan merasuki alam semesta ini. Cobalah engkau dulu, Basri, aku akan membantumu melihat kelemahan ilmu barumu.”

Segera Basri bergerak di lapangan dan langsung mengeluarkan golok yang tersampir di pinggangnya dan mulai bersilat memperagakan ilmunya yang baru bernama ilmu Kilatan Golok Pencari Emas, ilmu didasarkan pada kecepatan gerakan golok yang berkelebatan sehingga terlihat seperti adanya kilatan-kilatan kekuning-kuningan di sekitar tubuh Basri akibat energi tenaga dalamnya yang disalurkan ke goloknya. Ada 15 jurus golok yang diperagakan oleh Basri dan dia melakukannya sepenuh hati tidak tanggung-tanggung karena dia tidak mau rugi mumpung ada orang hebat yang bisa memberikan saran yang bermanfaat baginya. Setelah ke 15 jurus itu dimainkannya, dia berhenti dan mengusap keringatnya sambil memandang ke arah pohon tempat di mana Datuak duduk tenang berayun-ayun di dahan pohon.
 
Terdengar Datuak berkata,” Basri, ilmu sudah bagus sekali tetapi terlihat sekali engkau tidak mau rugi dalam melakukan setiap gerakan, malah hal ini menghambat perkembangan yang bagus pada ilmu itu. Apa kamu bisa bermain catur ?”

Dengan keheranan Basri menjawab,”Bisa datuak, kenapa?”

“Basri, ada kalanya di permainan catur kita harus mengalah untuk meraih kemenangan yang lebih besar, jika kita tidak melakukan hal itu kita tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan bahkan hanya bisa diam tidak bergerak-gerak menghabiskan waktu dan tenaga saja. Kenapa kita tidak melakukan pengorbanan yang tidak seberapa tapi bisa menghasilkan hasil yang jauh lebih baik dari sekarang?”

Basri langsung memikirkan kata-kata Datuak itu, dan benar dia mulai merasakan adanya kelemahan yang menyolok mulai pada jurusnya yang ke 8 dan seterusnya.

“Basri, aku tahu kamu mempunyai ilmu peringan tubuh yang hebat kalau tidak salah nama ilmu itu ilmu Langkah Angin Menembus Badai, kenapa tidak engkau gabungkan ilmu langkah itu dalam ilmu baru itu, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik lagi. Dan kau perlu meningkatkan ilmu kebatinanmu, aku tahu gurumu pernah memberikan padamu sebuah buku mengenai ilmu kebatinan, ilmu yang ada di buku itu namanya Mato Elang Jelajah Alam. Sebuah ilmu yang hebat sekali, kau harus mulai melatihnya dan kombinasikanlah ketiga ilmu itu sehingga kau bisa mendidik muridmu melawan bangsa kegelapan nantinya. ”

Basri terkejut sekali Datuak mengetahui bahwa gurunya pernah memberikan dia sebuah buku kepadanya, sebenarnya dia pikir ilmu kebatinan itu tidak terlalu perlu dipelajari sehingga dia lebih memfokuskan diri pada ilmu silat saja. Tidak pernah terpikirkan olehnya ternyata ilmu itu hebat sekali sehingga Datuak memberikan saran untuk mempelajarinya. Dia berjanji dalam hati sepulangnya dari sini dia akan langsung mencari buku itu di perpustakaannya karena dia mulai merasa pasti ada sebabnya sehingga Datuak meminta mereka semua meningkatkan ilmu kebatinan masing-masing. Tambah dipikir lagi saran dari Datuak, tambah semangat dia untuk cepat-cepat pulang membawa muridnya dan segera menyempurnakan ilmunya menjadi seperti yang dikatakan oleh Datuak.

“Terima kasih banyak, Datuak, akan aku turuti semua saran yang datuak berikan padaku hari ini, mudah-mudahan di perjumpaan kita di masa datang, Datuak bisa melihat kemajuan ilmuku itu.” Kata Basri sambil merangkapkan kedua tangan di dada dan menundukkan kepala sebagai rasa hormat dan terima kasih.

“Bagaimana denganmu Kahar? Apa ada ilmu baru yang ingin kau minta petunjuk dariku?” Tanya Datuak.

“Ada Datuak, aku menamakan ilmu ini Jentikan Bara Panah Api.”

“Hmmmm nama yang berunsurkan api, berarti engkau bermain dengan energi panas. Baiklah aku akan lihat ilmumu itu.”

Kahar berjalan menuju ke lapangan, teman-temannya yang tadinya kelihatan masih sibuk dengan pikiran masing-masing sekarang mereka memandang ke arah Kahar karena mereka ingin tahu sampai di mana kehebatan ilmu saudara terkecil mereka ini. Jauh dalam lubuk hati mereka, mereka juga ingin bisa menyamai kesaktian adik mereka ini, karena mereka tahu adik mereka masuk ke daftar tokoh yang dianggap mumpuni oleh orang-orang di dunia persilatan, malu rasanya jika ilmu mereka jauh bedanya dengan sang adik.

Sedangkan Kahar sedang konsentrasi menyalurkan tenaga dalamnya ke 2 tangannya, terlihat telapak tangannya berubah warna menjadi merah, dan mulailah dia bergerak jurus pertama dari Jentikan Bara Panah Api. Begitu dia mulai terasa hawa di sekitar lapangan tersebut berubah panas sekali, dan setiap jentikan yang dilakukannya seolah-olah seperti mengeluarkan percikan-percikan api yang bergerak seperti panah menuju sasaran yang ditujunya. Jurus ini terdiri dari 9 jurus yang mempunyai variasi gerakan yang sangat dinamis dan cepat sekali. Tidak terasa 9 jurus sudah selesai dimainkan oleh Kahar, terlihat peluh membasahi semua bajunya sehingga menjadi kuyub sekali.

“Hihihi… paman Kahar sudah mandi juga yah… mandi keringat….. ah bau… makanya jangan main panas-panas bisa cepat keringatan“ kata Aswin meniru ucapan Bundanya yang memarahi dia jika bajunya basah akibat keringat, sambil menutup hidungnya dan tertawa-tawa nakal, bocah ini sudah selesai mandi dan sarapan, langsung dia lari-lari ke belakang untuk melihat pamannya bersilat, dia tidak sempat melihat Basri tapi dia melihat gerakan Kahar.

Semua orang yang mendengarkan seruan bocah nakal ini tersenyum simpul, dan Kahar yang menoleh ke arah Aswin ingin balas menggoda, batal melakukannya karena dia melihat Siti berdiri di belakang Aswin sambil tersenyum manis. Kahar merasa seluruh dirinya berubah menjadi merah akibat malu dilihat Siti dengan badan berkeringat seperti itu.

Aswin yang melihat wajah dan leher Kahar memerah berpikir bahwa ilmu panas tadi masih bekerja di tubuh pamannya itu langsung menggoda lagi,” Wah paman Kahar sudah kayak manusia merah, …hmmmm… tapi gak enak kedengarannya… sudah kayak manusia api…hihihii…”

Kahar mendengar perkataan tersebut tambah merah wajahnya, sehingga teman-temannya yang melihat hal itu tambah tertawa, yang paling keras tertawanya adalah Bumi karena dia dapat menduga apa penyebab memerahnya wajah Kahar. Datuak juga ikutan tersenyum melihat kenakalan Aswin yang polos dan lugu itu, dan dia menegur bocah nakal itu,” Aswin, kakekkan sudah bilang jangan menganggu orang yang lagi serius belajar silat, apa kamu lupa pesan kakek?”

“Bukan begitu kek,”bantah Aswin, “Kan paman Kahar sudah selesai melakukan gerakan silatnya, dan badannya masih kelihatan merah seperti api, makanya aku ingin memanggil dia manusia api seru kan kek.”

Terlihat datuak geleng-geleng kepala mendengar bantahan anak nakal ini, dia hanya bisa tersenyum saja dan berusaha untuk membantu Kahar memulihkan keadaan yang sedang mempermalukan dirinya itu, sedikit banyak Datuak dapat menduga bahwa Kahar menyukai gadis cantik yang berdiri di belakang Aswin sambil tersenyum manis itu.

“Hmmm, Aswin jangan banyak omong, sekarang kakek mau bicara sama paman Kaharmu. Kahar, aku sudah melihat ilmumu itu tadi, ilmumu sudah mendekati sempurna semua gerakan yang kamu lakukan benar-benar bermanfaat dan beerguna untuk menandingi ilmu lawan. Aku sudah tidak melihat hal lain yang bisa diperbaiki lagi, yang kamu perlukan hanya latihan untuk semakin memantapkan ilmu itu.”

“Terima kasih atas pujian Datuak, tapi aku masih belum puas Datuak, aku masih merasa ada beberapa bagian yang harus aku perbaiki lagi sehingga ilmu ini semakin sempurna. Apakah aku perlu melatihnya dengan pasir yang dipanggang di kuali, Datuak, untuk memperkuat hawa bara yang aku keluarkan dari jentikanku?”

“Kahar, aku senang engkau tidak cepat puas dengan ilmumu itu, memang ada sedikit saran dariku tapi engkau membutuhkan waktu untuk melakukannya. Jika engkau punya waktu pergilah engkau ke kawah Gunung Merapi dari arah selatan dan akan kamu temui sebuah gua yang tidak sama dengan gua yang lain berhawakan panas, gua ini sangat dingin sekali, bertapa dan berpuasalah engkau disana selama 40 hari dan pelajari letupan-letupan api larva yang dikeluarkan oleh gunung merapi tersebut. Jika engkau mampu menyelami semua itu dalam 40 hari dan kau sudah sanggup membuat gua itu menjadi sama panasnya dengan gua yang lain, ini menandakan bahwa engkau sudah berhasil melatih ilmu tenaga dalammu untuk membuat ilmu barumu menjadi sempurna. Dan hasil tapamu kelak secara tidak langsung akan membantumu dalam ilmu kebatinanmu juga. Satu hal yang perlu kau ketahui pada dinding gua itu terukir sebuah ilmu kebatinan yang hebat untuk melawan bangsa kegelapan, ilmu ini hanya bisa kau dapat dengan membuat gua itu membara dan dengan menggunakan tenaga batin pada matamu maka ilmu ini baru bisa terlihat untuk dipelajari. Bahkan jika engkau benar-benar berbakat dalam melatih ilmu di dinding itu maka jentikan bara panah apimu itu benar-benar akan bisa mengeluarkan percikan panah api yang bisa membakar musuhmu baik itu bangsa manusia maupun bangsa kegelapan sesuai dengan seberapa besar tenaga dalam yang engkau keluarkan. “ kata Datuak.

“Terima kasih Datuak atas penjelasannya, saran Datuak akan aku laksanakan sesegera mungkin.”kata Kahar dengan posisi sama dengan Basri dalam memberi hormat. Sungguh tidak disangka-sangka olehnya bahwa kedatangan dia ke Batang kapeh akan mendapat tambahan ilmu yang hebat dan…….juga dapat tambahan hadiah special, bertemu dengan sang pujaan hatinya yang sudah lama dirindukan olehnya.

“Tidak usah kalian berterima kasih kepadaku, ini memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa untuk aku membantu kalian agar kalian bisa mendidik dan memberikan pondasi yang kokoh buat murid-murid kalian. Bumi, aku akan membawa pergi Aswin untuk melatih dia, nanti sore aku akan mengantarnya pulang kembali, sementara itu kalian laksanakanlah wangsit dari kakek guruku untuk mendidik 4 bocah lagi sebagai tulang punggung melawan kegelapan ” Terdengar suara Datuak yang semakin menjauh dari mereka.

Mereka segera melihat ke arah pohon, dan memang Datuak sudah tidak ada di sana lagi. Begitu juga dengan Aswin yang sudah lenyap dari tempat dia berdiri tanpa mereka semua menyadari kapan Datuak membawa bocah itu pergi. Mereka semua bergidik dan meleletkan lidah saking kagumnya pada ilmu Datuak Inyiak Balang tersebut, tidak heran kenapa dia merupakan tokoh nomor satu untuk saat ini. Benar-benar seorang tokoh yang sangat mumpuni sekali kesaktiannya, dan teguran dari Datuak menyadarkan mereka tugas yang diembankan kepada mereka untuk diselesaikan.

Terdengar Kahar berkata,” Wah uda-udaku ternyata diam-diam menciptakan ilmu silat baru yang hebat sekali, aku jadi kagum sekali dan artinya aku tidak boleh kalah dari uda-uda, harus lebih giat lagi belajar supaya tidak ketinggalan.”

“Kau juga hebat sekali Kahar, bahkan datuak tidak menyebutkan kelemahan ilmu barumu seperti yang dia lakukan pada kami.” kata Bumi.

“Ah uda Bumi, itu hanya kebetulan saja ilmuku lebih baik karena aku sudah menciptakan dan melatihnya sejak 3 tahun yang lalu, memang aku belum pernah mengeluarkan ilmu ini melawan musuh-musuhku karena aku masih belum percaya diri ilmu ini akan bisa menandingi mereka, aku masih merasa banyak kelemahannya di sana sini.”

“Hari ini kita benar-benar harus bersyukur bertemu dengan orang hebat seperti datuak, aku merasa kita beruntung sekali beliau mau membantu kita dalam memberikan saran-saran untuk ilmu kita. Aku jadi bersemangat sekali untuk cepat-cepat pulang dan melakukan saran beliau.” Kata Basri dengan bersemangat.

“Iya, tapi kita jangan lupa juga pada pesan beliau untuk bisa mendidik murid special kita sehingga mereka tidak akan memalukan kita kelak dan bisa membawa nama harum kita di dunia persilatan.” Kata Masnan dengan tenang.

“Benar kata kalian, aku merasa karena kita diberikan tugas yang berat ini makanya sang Dewata memberikan kita tambahan ilmu lagi agar kita bisa membantu manusia mengusir kegelapan yang akan datang segera.”

“Uda Bumi benar, kita karena mengemban tugas penting maka datuak mau membantu kita menyempurnakan ilmu-ilmu kita, kalau dalam keadaan biasa belum tentu kita punya kesempatan untuk bertemu dan bisa pula mendapat saran dari beliau.” Sahut Masnan.

Mereka manggut-manggut membenarkan perkataan Masnan, sungguh kalau dipikir dan dikaji ulang semua ini ada hubungan sebab akibatnya. Oleh karena itu mereka harus benar-benar dan disiplin melatih diri mereka sebelum menghadapi prahara yang akan datang menjelang kelak. Sementara itu Basri mempunyai pemikiran lain lagi, dia merasa ada unsur keanehan dari saran-saran yang datuak berikan, dia melihat datuak memberikan saran berdasarkan unsur-unsur yang ada di alam semesta ini. Semakin dia pikirkan semakin dia melihat kejanggalan itu, dia diam berpikir keras mengapa ini terasa menganggu sekali.

Kahar melihat kening Basri berkerut-kerut menjadi penasaran sekali ingin menggoda,”Sudahlah uda Basri, nanti saja dipikirkan saran datuak, mendingan sekarang kita mandi dan sarapan supaya kita merasa segar waktu ketemu dengan calon murid kita. Benar yang dikatakan Aswin, kita ini memang sudah mandi tapi mandi keringat.”
 
Belum sempat Bumi menimpali kata-kata Kahar, Basri sudah bicara,”Bukan begitu Kahar, aku hanya merasakan sebuah keanehan saja dengan ilmu dan saran dari datuak. Kalian merasakan tidak keanehannya?”

“Hmmm… aku pikir hanya aku saja tadi yang merasa seperti itu. Benar yang engkau katakan Basri, aku merasa sepertinya kita diarahkan menyatu dengan unsure-unsur yang ada di alam menurut kitab-kitab kuno jaman dulu yang kita ketahui.” Sahut Masnan.

Mereka jadi mulai memikirkan kembali saran dari datuak kepada mereka, mulai mereka merasakan keanehan dari saran itu seakan ilmu-ilmu mereka saling melengkapi satu dengan yang lain sehingga membentuk unsure-unsur alam yang ada.

“Benar sekali uda Basri, tadi aku juga sempat merasa aneh tapi aku pikir karena ilmu aku didasarkan pada unsur api maka datuak ingin memperkuat ilmu aku dengan menyarankan aku bertapa di gunung merapi. Setelah dipikir kembali katakan memang ilmu aku didasarkan pada unsur api seharusnya cukup dengan melatih kekuatan tanganku pada pasir panas maka ilmu baruku bisa berkembang lebih baik. Tapi beliau menghendaki agar ilmu aku bisa benar-benar mengeluarkan percikan api, dan sampai aku harus bertapa dan berpuasa untuk meningkatkan ilmu kebatinanku, mulai aku merasa kita dipersiapkan untuk mendidik murid kita selain melawan manusia-manusia sesat tapi juga melawan bangsa kegelapan.”

“Aku juga merasa beliau mempersiapkan aku untuk menjadi unsur tanah, kalau tidak mengapa beliau menghendaki aku melihat pergerakan tanah dalam mempengaruhi sekitar kita? Aku merasa ini pasti ada sebabnya kenapa beliau mempersiapkan kita menurut unsur yang ada di alam semesta ini. Bagaimana menurutmu Masnan ?”

“Memang benar kita dipersiapkan berdasarkan unsur alam, uda Bumi unsur tanah, Basri unsur logam, Kahar unsur api dan aku sendiri unsur angin. Masing-masing kita melatih seorang murid untuk bergerak berdasarkan unsur-unsur tersebut, sedangkan anak yang akan melawan sang angkara murka berjumlah 5 orang berarti ada 5 unsur yang akan dilatih menghadapi bangsa kegelapan. Ini artinya Aswin akan dilatih menjadi unsur yang paling nyata dan mempunyai kekuatan dinamis di alam semesta ini yaitu unsur air. “ kata Masnan.

“Kenapa harus 5 unsur ini?” Tanya Bumi.

“Menurut guruku, konon kabarnya beratus tahun yang lalu, ada seorang maharaja kegelapan yang sangat sakti mandraguna, dia merupakan seorang tokoh kosen saat itu bahkan kesaktiannya melampaui pendahulu-pendahulunya. Dia malang melintang tanpa ada manusia atau bangsa kegelapan yang bisa menghancurkannya, apapun kehendaknya harus bisa terlaksana kalau tidak akan musnah menjadi debu dengan ilmunya. Benar-benar saat itu mengerikan sekali, bencana terjadi di mana-mana, manusia hidup dalam ketakutan sehingga penderitaan dan kesengsaraan manusia pada waktu itu diibaratkan seperti hidup segan matipun tidak bisa. Banyak manusia-manusia sesat yang bergabung dengan bangsa kegelapan untuk menikmati kesengan dunia, mereka inilah mengkhianati manusia lainnya untuk hidup dalam kesengsaraan. Setiap hari ada saja manusia yang mati berserakan di pinggir jalan, sementara itu bangsa kegelapan seolah-olah menguasai dunia ini dengan seenaknya saja. Kehidupan pada waktu itu sangat sulit sekali bagi bangsa manusia, hanya Tuhan yang tahu kapan semua ini akan berakhir. . .”sahut Masnan.

“Apa hubungannya semua ini dengan kita?” kata Bumi.

“Sabar uda Bumi, dengarkan saja cerita uda Masnan dulu.”kata Basri.

“Maharaja memiliki 4 orang pembantu utama yang pilih tanding, mereka itu hanya 1 tingkat di bawah dia dalam ilmu kesaktian tapi dia punya kelebihan dibandingkan dari pembantunya yaitu dia bisa punya charisma wibawa pemimpin yang hebat sekali, semua bangsa kegelapan sangat memujanya dan bersedia mati demi dia tanpa pikir dua kali. Biarpun maharaja dan 4 pembantu utamanya sangat hebat sekali, tapi suatu ketika entah dari mana datangnya tiba-tiba muncullah dua orang manusia yang luar biasa kesaktiannya, mereka bisa mengalahkan 4 pembantu utama maharaja sekaligus. Dan bahkan pada akhirnya mereka berhasil membunuh maharaja itu, sehingga bangsa kegelapan menjadi musnah atau yang selamat melarikan diri entah ke mana, beratus tahun kemudian situasi dunia menjadi aman kembali sampai sekarang. Maharaja itu merupakan maharaja terakhir yang menguasai dunia kegelapan.” Cerita Masnan.

“Wah hebat sekali orang itu, siapa gerangan beliau dan memakai ilmu apa dia mengalahkan maharaja itu?” kata Basri penasaran.

“Menurut guruku, tidak lama sesudah mengalahkan bangsa kegelapan, mereka itu menghilang dari peredaran, terdengar kabar mereka kembali ke tempat persembunyiannya untuk menyembuhkan dirinya yang terluka setelah pertempuran terakhir dengan maharaja kegelapan. Ilmu mereka menggunakan ke 5 unsur yaitu tanah, api, air, logam dan angin untuk mengalahkan maharaja dan 4 pembantu utamanya itu. Jadi aku rasa kita dibentuk atas 5 unsur itu juga dalam mendidik murid kita mungkin didasarkan pada legenda yang diceritakan oleh guruku ini. Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak ada hubungannya tapi aku mempunyai firasat cerita ini benar-benar pernah terjadi dan sekarang kita mendapat kehormatan untuk memberikan pondasi dasar kepada calon murid kita untuk dipersiapkan menerima ilmu berdasarkan 5 unsur alam tadi guna mengalahkan bangsa kegelapan.”

“Tapi kenapa mesti 5 orang bukannya dulu mereka hanya berdua saja sudah mampu mengalahkan maharaja dan 4 pembantunya itu?”Tanya Bumi kepada Masnan.

“Terus terang saja uda, aku tidak tahu kenapa seperti ini tapi aku yakin sekali pasti semua itu pasti ada maksudnya jadi kita harus bersabar dan menunggu apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Yang jelas saat ini selain melatih dan menyempurnakan ilmu silat & kebatinan, kita juga harus melatih murid-murid kita dengan sebaik-baiknya sesuai dengan amanat yang telah kita terima.”

“Yah, benar apa yang dikatakan oleh uda Masnan, sekarang adalah giliran kita berperan untuk mendidik calon-calon penghancur sang angkara murka, jadi kerjakan tugas kita dengan sebaik-baiknya saja.” Sahut Kahar.

“Aku jadi tidak sabar lagi bagaimana kelak murid-murid kita menghadapi manusia-manusia sesat dan bangsa kegelapan. Mudah-mudahan mereka semua tidak akan mengecewakan kita dengan segala jerih payah yang kita berikan pada mereka.” Kata Basri.

“Sudahlah, sekarang mendingan kita masuk untuk mandi dan makan siang, tidak terasa hari sudah menjelang siang, sebaiknya secepatnya kalian bertemu dengan calon murid kalian sehingga kalian bisa mengenal mereka dan mulai melatih mereka dan diri kalian sendiri karena waktu kita hanya singkat yaitu 5 tahun saja oleh karena itu kita harus bertindak cepat dan segera agar tidak membuang-buang waktu lagi.”kata Bumi.

“Benar, uda Bumi, sebaiknya sekarang segera uda menyuruh orang untuk memanggil mereka dan keluarganya agar bisa kami diperkenalkan karena kami ingin segera membawa mereka ke tempat kami untuk dilatih.”

“Baiklah Masnan, aku akan menyuruh orang memanggilkan mereka datang untuk bersama kita makan siang agar saling mengenal dengan baik sehingga timbul kepercayaan mereka pada kalian sehingga kalian bisa membawa murid kalian pergi. Sementara itu lebih baik kita juga segera mandi, karena aku mulai mencium bau-bau tidak sedap sedang beredar di sekitar kita, buktinya Siti sampai lari masuk ke dalam karena tidak tahan bau badan kita.”kata Bumi sambil tersenyum-senyum sambil mata jahilnya melirik ke arah Kahar.

Benar saja habis dia berkata begitu langsung muka Kahar kemerahan karena malu sekali ketahuan sedang mencuri-curi pandang ke arah kepergian Siti yang masuk ke dalam untuk mempersiapkan makan siang. Masnan dan Basri mulai curiga dengan melihat tingkah Bumi dan Kahar, terlebih-lebih dengan senyum jahil Bumi menyebabkan muka Kahar memerah karena malu.

“Kini aku mengerti darimana Aswin memperoleh kejahilannya, buah memang jatuhnya tidak jauh dari pohon.”goda Masnan kepada Bumi.

“Iya uda, malahan aku merasa ada sesuatu istimewa terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari tapi sudah tercium baunya. Jangan-jangan kita tertipu dipaksa datang ke sini yang katanya untuk membicarakan usaha kita tapi ada maksud lain yang kita tidak tahu nih.” Sambung Basri.

Bertambah merah dan salah tingkah Kahar mendengar ledekan dari teman-temannya ditambah lagi Bumi semakin lebar senyum menggodanya. Karena tidak tahan buru-buru Kahar masuk ke dalam maksudnya melarikan diri dari godaan teman-temannya, tapi siapa sangka ini malah menambah godaan dari udanya.

“Lihat saja itu Basri, ada yang sudah tidak tahan ingin kelihatan ganteng di depan mata sang pujaan hati, buru-buru mau mandi padahal ingin mengejar bayangan sang juwita.”sahut Bumi dengan menahan tawa.

Tambah cepat jalan Kahar ke dalam untuk menghindari godaan teman-temannya yang sekarang sepertinya kompak ingin menggodanya bersama-sama, dari pada tambah berlarut-larut dan membuat mukanya memerah mendingan menulikan telinga dan langsung berjalan pergi. Karena kalau diladeni bisa tambah panjang urusan dan bisa terbongkar isi hatinya yang belum bersedia dia ceritakan pada orang lain.

Kini tampaknya Masnan dan Basri sudah mulai bisa menduga maksud kata-kata bersayap Bumi yang ditujukan kepada Kahar, sepertinya saudara kecil mereka ini sudah jatuh cinta dengan ipar Bumi yang memang cantik jelita itu. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan Siti, hanya pria yang tidak normal saja yang tidak menyukai gadis itu. Mereka sudah berbahagia berkeluarga, kalau mereka masih sendiri tidak menutup kemungkinan juga hati mereka akan tertawan oleh dara seperti Siti. Jadi mereka bisa memaklumi kenapa adik mereka bisa seperti sekarang ini tingkah lakunya, dia masih muda, tampan dan berilmu tinggi, gadis mana yang bisa menolak pria seperti Kahar. Tapi mereka semua tahu selama ini Kahar sepertinya tidak memperdulikan gadis-gadis yang jatuh cinta kepada dia, seakan-akan hatinya tidak mengenal dengan apa artinya cinta. Bukan berarti selama ini Kahar menunjukan tanda-tanda menyukai pria, dia menerima dan memberi perhatian lebih kepada para gadis-gadis tapi sebatas teman saja tidak lebih dari itu. Bnyak dari gadis-gadis itu salah sangka dengan semua itu, bahkan ada beberapa dari gadis-gadis itu yang minta pertolongan mereka untuk membuat Kahar menerima mereka, tapi sayang tidak pernah sekalipun mereka melihat hati Kahar tergerak seperti sekarang ini.

Ini membuat mereka senang sekali, karena sudah lama mereka prihatin kepada adik mereka ini kapan akan menikah sedangkan usia sudah tidak remaja lagi. Sekarang melihat semua ini, ketiga laki-laki ini saling memandang sehingga tercipta pengertian diantara mereka untuk membantu sang adik untuk mendapat sang pujaan hati. Mudah-mudahan tidak lama lagi mereka bisa merayakan sebuah hajatan yang meriah untuk sang adik. Bumi merasa senang sekali bisa memenuhi amanat isterinya untuk mencarikan pendamping yang cocok buat adik iparnya itu. Dan dia merasa Kahar merupakan pilihan yang sangat sempurna buat Siti, dia akan menanyakan pada Siti bagaimana pendapatnya tentang Kahar karena dia pernah melihat Siti curi-curi pandang pada Kahar dan selalu tersipu malu setiap kali matanya bertemu dengan mata Kahar. Itu artinya sang gadis juga menyukai Kahar, jadi tinggal mencari cara saja bagaimana mendekatkan Kahar dengan Siti.

Setelah sesaat mereka segera menyusul Kahar untuk masuk ke dalam dan mandi bersiap-siap untuk makan siang dan bertemu dengan calon murid mereka. Bumi segera memanggil muridnya yang sedang bertugas membersihkan halaman depan untuk memanggilkan 4 anak tersebut berikut dengan keluarganya untuk diundang makan siang bersama. Sementara murid itu memanggil mereka, mereka semua pergi basuh diri dan berganti pakaian.

Siapakah sebenarnya keempat anak yang akan mereka didik itu ? Apakah benar mereka dipersiapkan untuk mewakili unsur tanah, api, angin dan logam dalam melawan kerajaan kegelapan ?



 

Bagian III : Mimpi Yang Aneh

Sambil menikmati makan malam bersama mereka berbincang-bincang hal-hal yang ringan dan sambil mengingat-ingat masa lalu, tapi dalam hati masing-masing tetap tidak bisa menghilangkan kejadian tadi. Aswin dengan santainya makan tanpa merasa terganggu dan Siti pura-pura mnyibukan diri membantu Aswin makan, karena sebenarnya dia merasa malu, sejak tadi dia merasa Kahar mencuri-curi pandang padanya. Sedangkan yang lain sibuk dengan makanan dan pikirannya masing-masing, tapi mereka berdua tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku mereka.

Wali Bumi bukanlah orang yang buta apalagi bodoh yang tidak bisa melihat dan merasa ada apa-apa diantara kedua orang ini. Oleh karena itu diam-diam dia memperhatikan mereka berdua dan tertawa dalam hati melihat tingkah laku mereka berdua. Dia merencanakan nanti jika ada waktu senggang dia akan menanyakan kepada Kahar mengenai hal ini, karena kalau memang keduanya saling jatuh cinta dia akan dengan senang sekali bisa mengikat tali persaudaraan yang lebih erat dengan Kahar.

Dan dia merasa bahagia bisa membantu adik iparnya mendapatkan seorang calon suami yang begitu baik, dia sangat berterima kasih selama ini kepada adik iparnya karena sudah membantu dia membesarkan Aswin dan mengurus rumah tangganya dengan baik, sampai-sampai lupa untuk menikah padahal usianya sudah termasuk kategori perawan tua untuk ukuran masa itu. Bukan tidak ada orang yang melamar iparnya, malahan saking banyaknya kadang-kadang membuat dia pusing tujuh keliling.

Kadang-kadang dia merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan iparnya dengan segala masalah yang ada di rumah tangganya walau iparnya tidak pernah keberatan membantunya. Oleh sebab itu dalam hati dia bertekat akan berusaha mewujudkan perjodohan Siti dengan Kahar, dia tidak akan seberani ini mencampuri urusan percintaan orang lain jika dia tidak yakin bahwa keduanya mempunyai perasaan yang sama.

”Uda Bumi, mengapa tersenyum-senyum sendiri, bagilah ke kami apa yang ada di pikiran uda,” kata Basri sambil memandang wali Bumi.

”Ah tidak Basri, aku sedang berpikir mengenai suatu hal yang lucu saja, tapi untuk saat ini belum bisa aku bagikan kepada kalian. Nantilah jika sudah saatnya pasti kalian juga mengetahuinya.” kata Bumi dengan misterius.

”Begitu yah, Uda!, ngomong-ngomong, Uda sudah mendidik Aswin dengan dasar-dasar ilmu silat ?”

”Dari dia umur 3 tahun aku sudah mengajarkan padanya ilmu pernafasan untuk membantu dia memupuk tenaga dalamnya. Ada apa Masnan, kenapa kamu menanyakan hal ini ?”

”Bagaimana kemajuannya, Da?”

”Menurutku cukup baik karena sekarang dia bisa duduk bersemedi sampai 3 jam lamanya. Dan sejak bulan lalu aku sudah mulai ajarkan kuda-kuda dan ilmu dasar silat padanya.”

”Hmmm…mmmm… baguslah anak seusia dini mungkin diajarkan ilmu pernafasan biar dia bisa mempunyai tenaga dalam yang baik.”

”Masnan, ada apa kamu menanyakan hal ini? Kamu jangan buat uda tambah penasaran.”

”Begini uda, aku bermaksud untuk mengambil anak uda menjadi muridku, apa uda keberatan ?”

”Eh, tunggu dulu uda Masnan, aku juga ingin Aswin menjadi muridku.”

”Aku juga tidak keberatan kalau Aswin mau menjadi muridku.” kata Kahar pula.

”Ha .. ha… ha…, anakku yang mantiko (bandel sekali) ini ternyata banyak yang berminat menjadikan murid, ini benar-benar merupakan sebuah keberuntungan bagi anakku.”

”Maaf uda, bukan maksud kami meremehkan kepandaian uda tapi kami merasa ilmu kami yang tidak seberapa ini harus ada pewarisnya. Kami melihat Aswin bertulang bagus dan mempunyai bakat untuk menerima pelajaran ilmu silat dari kami. Sayang kalau bakat seperti ini tidak dibina dengan sebaik-baiknya.” kata Masnan.

”Putar-putar kata kamu, Masnan, tetap saja bilang aku tidak becus mendidik anak ini.” kata Bumi.

”Uda, sabar dulu janganlah berang (marah) aku tidak bermaksud seperti itu…”

”Jadi maksudmu apa ?” potong wali Bumi dengan wajah cemberut.

”Basri, kamu bantulah aku bicara kepada uda Bumi, biasanya kamu kan pandai membujuk orang.” kata Masnan menggaruk-garuk kepalanya kebingungan salah tingkah takut telah menyinggung perasaan kakak angkatnya itu.

”He..he..he… Uda Masnan ini, penyakitnya kalau sudah buang sampah, awak (kita) yang disuruh bersihkan, betul dak, Kahar.” goda Basri.

Terlihat Kahar manggut-manggut sambil tersenyum mendengarkan candaan Basri.

Tiba-tiba Aswin bertanya,”Ayah, apa maksud paman Masnan mengambil murid, aku tidak mengerti ?”

Wali Bumi masih dengan cemberut menjawab,” Pamanmu Masnan ini ingin mengambil kamu sebagai muridnya, karena katanya ayah tidak becus mendidik kamu, anak nakal.”

”Aduh, uda bukan begitu maksudku… uda janganlah berburuk sangka begitu.” kata Masnan tambah panik.

Melihat Masnan panik dan berkeringat dingin, wali Bumi yang tidak tahan melihatnya, langsung tertawa terbahak-bahak karena bisa mengerjai Masnan, hal ini sudah lama sekali tidak dia lakukan yaitu menggoda adik-adik angkatnya. Sekarang Masnan baru sadar sudah masuk jebakan sang uda, dan akhirnya dia ikut tertawa tapi dengan tawa yang miring karena jengkel dikerjai udanya.

"Sekarang aku mengerti dari mana Aswin dapat sifat jahil itu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” gerutu Masnan.

”Masnan…Masnan… janganlah terlalu serius begitu, hidup ini sudah terasa sulit, santailah sedikit, dunia tidak akan berhenti berputar dengan kita tertawa..” kata Bumi geli.

”Nah, kita sudah selesai makan bagaimana kalau kita pindah ke ruangan keluarga, biar kita bisa santai ngobrolnya, tidak tegang seperti tadi. Siti, minta Uni (kakak perempuan) Anik bawakan kopi buat kami dan kamu serta Aswin ikut kami.” kata Bumi, dia sudah mulai menjalankan perannya sebagai mak comblang, dia ingin Siti dan Kahar bertemu sesering mungkin sehingga ada kesempatan untuk mendekatkan hati mereka.

Siti mendengarkan perkataan udanya hanya menganggukan kepala sambil membawa Aswin ke belakang untuk mencuci mulut dan tangannya yang kena makanan serta mengganti baju anak ini dengan baju tidur, supaya nanti kalau dia mengantuk, tidak susah lagi ganti-ganti bajunya. Karena anak ini kalau sudah mengantuk langsung pulas, jika harus tukar baju lagi biasanya bisa berakibat anak ini ngambek saking kesal tidurnya terganggu.

Sedangkan Kahar yang mendengar Siti akan ikut ngobrol dengan mereka, merasa jantungnya berdebar tidak karuan antara senang, bingung, cemas, pokoknya semua perasaan bercampur menjadi satu. Tapi yang paling penting dia merasa bahagia karena masih bisa memandang wajah sang pujaan hati lebih lama lagi. Dia seakan-akan tidak ada puasnya melihat Siti, serasa dunia penuh warna dan hatinya terasa ringan serta ingin tersenyum terus, tapi dia tahu tidak bisa sembarangan bertindak karena kalau ketahuan oleh yang lain, entah bagaimana dia harus menjelaskan, lagi pula akan ditaruh ke mana mukanya jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja, belum lagi jika bicara semua perbuatannya terhadap Siti selama mereka berkenalan dulu, rasanya dia ingin menghilang dari permukaan bumi.

Sekarang mereka sudah ada di ruang tengah sambil menikmati kopi mereka, dan kebetulan pula mereka adalah pria-pria yang tidak suka mengisap rokok dan makan sirih, mereka hanya penikmat kopi dan tuak (minuman keras) yang sekali-kali mereka minum kalau sedang berada di luaran bersama.

Setelah sejenak mereka duduk dengan diam dan santai, Basri mulai membuka pembicaraan,”Uda Bumi, bagaimana dengan usul kami tadi, kami hendak ambil puteramu sebagai murid kami, uda bisa pilih salah satu dari kami yang menurut uda pantas menjadi guru putera uda.”

Wali Bumi merasa menghadapi dilema, di satu sisi dia tidak ingin berpisah dengan anaknya walaupun anaknya nakal tapi tetap menjadikannya sebagai penghiburan dan pengisi hatinya yang sepi sejak ditinggal oleh isteri tercinta. Tapi di lain pihak dia sadar dan merasa bangga bahwa tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan seperti adik-adik angkatnya ini ingin menjadikan anaknya sebagai murid mereka. Tetapi memilih salah satu dari mereka itu lebih memusingkan kepala karena dia tidak ingin menyinggung perasaan adik-adiknya itu. Dia sudah mengangkat saudara dengan mereka, dan mereka memposisikan diri menjadi adik-adik angkatnya didasarkan pada usia dia yang memang lebih tua dari yang lain bukan dari peringkat ketinggian ilmu silat dan kepandaian lainnya. Dibandingkan dengan Basri, dia tidak bisa menyamai kecerdikan adiknya yang satu ini, dengan Masnan dia kalah dalam hal tenaga dalam, apalagi dengan Kahar dia kalah segala-galanya dari segi ilmu silat maupun tenaga dalam, adik mereka yang paling muda ini memang mempunyai ilmu silat dan tenaga dalam yang paling mumpuni diantara mereka. Tapi yang membuat dia selalu bangga menjadi kakak mereka adalah mereka tidak pernah mempermasalahkan dan membangga-banggakan kepandaian mereka, mereka tetap menghormati dia dan selalu minta pendapat dia untuk hal-hal yang mereka rasa mereka memerlukan pendapatnya dalam mengambil keputusan.

”Basri, aku pada prinsipnya tidak keberatan kalian menjadi gurunya Aswin, tapi kalau disuruh pilih salah satu aku susah jadinya, belum lagi kalian pasti ingin membawa Aswin ke rumah kalian untuk dilatih, sedangkan dia masih terlalu kecil untuk jauh-jauh dari aku dan Siti.”

”Uda, jangan menguatirkan kami akan tersinggung nanti jika uda memilih salah satu diantara kami menjadi guru Aswin, kami akan menerimanya dengan lapang dada karena kami yakin pasti uda sudah memikirkan terbaiknya bagi putera uda. ” kata Basri.

” Uda, kami berjanji pada uda untuk tidak merasa tersinggung atau marah pada uda, kalau uda memilih salah satu dari kami, tenang saja uda, kami kan bukan lagi anak-anak yang sedang memperebutkan mainan, tapi kami sungguh-sungguh ingin membantu uda untuk memberikan putera uda yang terbaik, bukan begitu uda Masnan dan uda Basri ?” sambung Kahar.

Masnan dan Basri manggut-manggut membenarkan perkataan Kahar. Mereka melihat uda mereka merasa kebingungan dengan permintaan mereka, karena itu mereka mempertegas maksud mereka untuk tidak membuat uda mereka susah dalam mengambil keputusan.

Kahar, uda sangat berterima kasih kepada kalian yang mau membantu uda untuk mendidik Aswin, uda yakin seyakin-yakinnya bahwa maksud kalian murni selain mempunyai pewaris ilmu kalian, juga kalian ingin membantu aku mendidik anakku. Kalian sendiri sudah lihat kan tadi tingkah laku anakku, aku hanya kuatir nanti dia akan sangat merepotkan kalian saja.”

Siti dan Aswin diam saja mendengarkan pembicaraan ini, jauh dalam lubuk hati Siti tidak bersedia dipisahkan dari Aswin tapi dia tidak bisa menentangnya juga karena dia bukan ibu kandung Aswin semua merupakan keputusan ayahnya sebagai orang tua kandung Aswin, selain itu semua ini untuk kebaikan Aswin juga. Jadi dia lebih memilih untuk diam saja menunggu keputusan kakak iparnya itu karena dia tahu pasti uda Bumi tidak akan mengambil keputusan yang akan mengecewakan semua orang.

”Baiklah adik-adikku, beri aku waktu untuk berpikir yang terbaik bagi kita semua, bagaimana ?”

“Tidak masalah uda, ambilah waktu untuk berpikir, kami percaya uda pasti bisa memberikan keputusan yang baik untuk semuanya. Hanya sementara kami menunggu, kami akan merepotkan uda sekeluarga dengan kehadiran kami, apa uda tidak keberatan ?” tanya Masnan.

”Aduh, kalian ini seperti orang yang tidak kenal uda saja, kami sudah biasa kedatangan tamu, jadi tidak pernah merasa repot dengan semua ini, apalagi kalian jadi tamu, aku malah tambah senang karena ada teman ngobrol dan latihan silat… yah siapa tahu nanti malah ada yang bisa menetap di sini…” jawab Bumi sambil tersenyum simpul dan melirik Kahar.

Kahar yang merasa tersindir pura-pura ambil gelas kopinya untuk menutupi mukanya yang semburat merah karena malu. Cepat-cepat dia berusaha membelokan arah pembicaraan agar dia tidak merasa terpojok dengan sindiran sang uda.

”Oya mengenai masalah tadi uda, mungkin uda perlu menyelidiki siapa gerangan kakek Inal menurut Aswin itu. Karena terus terang saja walau dia tidak bermaksud jahat tapi aku tetap penasaran siapa gerangan dia, aku merasa semua ini mempunyai latar belakang yang tidak biasa.”

”Apa yang kamu katakan itu benar Kahar, aku juga merasakan hal yang sama, di dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa sebab, pasti ada latar belakangnya. Apa uda tidak merasakan keanehan yang terjadi di sekeliling uda selama ini ? Atau keanehan yang terjadi pada anak uda ?”

Terlihat wali Bumi berpikir sambil mengelus-elus dagunya, terus dia mengambil kopinya seperti sedang mencari-cari jawabannya di dalam hirupan kopi itu. Tiba-tiba dia menggebrakan gelas kopinya ke meja…bruk… kopinya berceceran di atas alas meja.

”Basri, karena kamu bicara begitu aku baru teringat, kira-kira sebulan yang lalu, pagi hari sebelum aku mengajarkan kuda-kuda kepada Aswin, aku pernah mencoba menyalurkan tenaga dalamku ke tubuhnya, maksudku untuk membantu dia memperlancar jalan darahnya sebelum dia mulai latihan ilmu silat. Kamu tahu Basri, terjadi sebuah keanehan…” terdiam sejenak Bumi setelah mengatakan hal ini.

”Apa yang terjadi uda?, jangan bikin kami mati penasaran dengar cerita uda.” kata Masnan dengan tidak sabar.

”Sabar Masnan, aku lagi mencoba mengingat kejadian aneh itu, tadinya aku pikir ini kejadian yang biasa terjadi makanya aku melupakannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi hal ini tidak merupakan hal biasa terjadi.”

Kembali wali Bumi terdiam sambil berpikir keras, yang lain berusaha sabar menunggu Bumi meneruskan ngomongnya. Cukup lama juga dia terdiam sambil serius memandang anaknya, ini membuat yang lain mulai tidak sabar lagi. Sedangkan Aswin yang dipandang ayahnya seperti itu malah membalas menatap dengan mata yang bersinar tenang dan berkilauan jernih. Tapi akhirnya anaknya tidak tahan ditatap seperti itu oleh ayahnya.

”Ayah, kenapa ayah menatap aku seperti itu, apa di hidung Aswin tumbuh tanduk ?” kata anak itu sambil mulai memandang hidungnya.

Semua yang mendengar tersenyum, dan suasana mencair menjadi lebih santai.

”Bukan hidung kamu tumbuh tanduk, tapi di kepala kamu tumbuh dua tanduk.” kata Bumi menggoda anaknya.

Buru-buru Aswin meraba-raba kepalanya untuk memastikan ucapan ayahnya itu.

”Ah ayah, mana ada tanduk di kepalaku, emangnya aku setan makanya punya 2 tanduk di kepala?” rengek manja Aswin kepada ayahnya.

Sebenarnya Aswin sudah tidak betah duduk diam-diam mendengarkan ayahnya berbincang-bincang dengan teman-temannya, tapi seperti anak-anak lain seusia dia, dia juga mau tahu apa yang dibicarakan para orang-orang yang lebih tua. Oleh karena itu dia membetahkan dirinya dengan cara melatih mengatur pernafasannya sesuai petunjuk kakek Inal. Ilmu pernafasan yang diajari kakek Inal memang berbeda dari yang diajarkan ayahnya, dia dapat melakukannya di mana saja dalam keadaan apa saja tanpa harus dalam posisi tertentu, karena itu dia lebih menyukai latihan yang diberikan oleh kakek Inal dibandingkan oleh ayahnya.

Tetapi kakek Inal tetap menyuruh dia melatih ilmu pernafasan yang diajarkan ayahnya, karena itu sangat bagus untuk melatih kesabaran dan ketenangan. Dia tidak mengerti maksud kakeknya itu, tapi dia tetap melakukannya karena merasa nyaman setelah melakukan semedi.

Maka sekarang dalam keadaan duduk di kursi bundar di samping Bundanya dan mengambil sikap duduk tegak lurus, sedangkan kedua tangan dilemaskan dan diletakan di atas lutut. Perlahan-lahan dia menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut, kemudian lama kelamaan dia mulai mengatur peredaraan hawa murni tubuhnya mengikuti gerakan pernafasannya. Lalu dia mulai menarik nafas bertambah pelan dan jarak tarikan nafas pertama dengan berikutnya lebih lama, seperti pernafasan orang yang lagi tidur dengan tenang, ini dilakukannya perlahan-lahan dan terus menerus.

Menurut kakek Inal, kalau dia rajin melatih ilmu pernafasan ini, dia akan bisa lama menyelam di air, karena dia bisa menahan dan menyimpan nafas dengan waktu yang lebih panjang dari orang normal lainnya. Hal inilah kenapa dia mau mempelajari ilmu pernafasan, karena ilmu ini awalnya cukup susah dibutuhkan konsentrasi yang baik untuk melakukannya. Apalagi untuk anak kecil lebih terasa susah, melatihnya dengan mata terbuka sehingga bisa melihat sekelilingnya, belum lagi masalah jika dia terburu-buru atau konsentrasinya buyar, dadanya akan terasa sakit sekali. Oleh karena itu dia sangat berhati-hati melatih ilmu pernafasan ini.

Saat ini dia bisa melakukan karena tidak ada kejadian atau pembicaraan yang menarik ditambah lagi orang-orang dewasa yang berbincang-bincang sepertinya tidak memperdulikannya sehingga dia merasa enak untuk melatih ilmu pernafasan ini. Tapi sekarang karena sang ayah sedang memperhatikan dia, makanya sebelum dia bertanya tadi dia sudah mulai menarik hawa murninya kembali ke perut dan dengan santainya bicara pada sang ayah tanpa takut ada akibat sampingan karena sudah melakukan ilmu pernafasan tadi.
”Uda, kami menunggu apa yang aneh pada Aswin.” kata Masnan.

”Begini, waktu uda salurkan tenaga dalam uda kepada Aswin, awalnya uda tidak merasakan apa-apa tapi lama kelamaan uda merasa tenaga dalam uda seperti tersedot tapi pelan-pelan sekali atau lebih tepatnya kalau diberikan perumpaan seperti kendi yang tiba-tiba airnya habis, padahal kalau dilihat sepintas kendi tersebut tidak ada lubang yang mengakibatkan kebocoran, tapi jika kamu memasukan air ke dalam kendi baru kamu akan bisa melihat ternyata ada lubang yang sangat kecil yang mengeluarkan air, semakin banyak kamu masukan air maka semakin deras pula air yang keluar di lubang yang kecil itu tadi. Nah, aku merasakan hal yang sama terjadi pada tenagaku pada saat kualirkan ke Aswin. ”
"Maksud uda bagaimana, kami tidak mengerti, sudah jelas tenaga dalam uda tersedot keluar kan uda sedang mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Aswin ?”.
”Benar Masnan, bagaimana ya cara menjelaskannya ?” kata Bumi sambil menggaruk-garuk kepala.
”Maksud uda Bumi itu begini uda Masnan, Uda bumi menyalurkan tenaga dalamnya tiga bagian tapi sepertinya tenaga yang tersedot keluar bukan tiga bagian lagi tapi malahan lebih banyak. Bukan bagitu maksud uda Bumi ?” kata Basri.
Memang diantara mereka berempat, Basrilah yang paling cerdik dan pintar melihat keadaan, mungkin karena dia mempunyai kehidupan dan latar belakang pedagang, karena itu dia harus bisa dengan cepat memahami keinginan orang lain supaya barang dagangannya laku.
” Benar seperti itu maksudku Basri, aku merasa tenagaku merembes keluar lebih dari yang aku salurkan, seperti ada yang menyedot keluar tenagaku memang awalnya tidak terasa sekali karena kecil sekali rembesan itu tapi deras dan terus menerus, makanya lama kelamaan aku merasakannya juga.”
”Pada waktu itu apa uda tidak memikirkan keanehan ini ?” kata Basri.
”Tadinya aku tidak memikirkannya lebih lanjut karena aku tidak merasakan sekali pengaruhnya, hanya setelah aku menarik tenaga dalamku aku merasa kelelahan dan tenagaku berkurang, aku pikir lumrah hal itu terjadi karena kebetulan saat itu aku baru habis bertempur melawan perampok. Tapi ketika aku mengulangi proses ini keesokan harinya, aku mulai merasa aneh dan ini berlangsung terus setiap aku menyalurkan tenagaku padanya.”

”Aneh juga ?! Aku belum pernah mendengar ada orang yang bisa menyedot tenaga dalam orang lain seperti yang uda alami.” kata Kahar.
”Selain merasa kelelahan apa uda merasakan hal lainnya, tidak ?” kata Masnan.

Kembali Bumi mengingat-ingat kejadian setelah itu, pelan-pelan dia menggeleng-geleng kepalanya sambil mengerutkan keningnya, ”hanya … tapi entah ini dapat dikatakan ada hubungannya dengan tersedotnya tenaga dalamku atau tidak ?” gumam Bumi.
”Maksud uda ? ” kata Basri ikut-ikutan mengerutkan keningnya.
"Uda, katakan saja, kita sama-sama bahas apakah itu aneh atau bukan ?” kata Masnan.

”Kira-kira sebulan yang lalu, waktu aku tidur, antara sadar dan tidak sadar aku merasa didatangi oleh seorang pria yang gagah dengan wajah yang berwibawa dan berkumis tebal didampingi seekor harimau yang gadang (besar) sekali dan terlihat angker. Mereka datang dan mengajak aku bicara, yang aneh adalah harimau itu juga bisa bicara, aku sempat kaget dan takut, tapi saat itu rasanya aku tidak bisa bergerak untuk melarikan diri.” kata Bumi, lalu dia terdiam.

”Apa katanya uda ?” kata Basri penasaran.

”Hah… aku baru teringat.” kata Bumi sambil memandang aneh ke arah adik-adiknya dan anaknya.
”Kenapa aku bisa lupa perkataan orang tua itu ?” kata dia sambil menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.”
”Uda….!!!” kata Masnan tidak sabar.
Yang lain juga mulai tidak sabar dan penasaran mendengar kata-kata Bumi yang terputus-putus tidak jelas maksudnya.
”Uda, kenapa uda memandang kami begitu aneh.” sekali ini Siti yang bertanya.
”Eh iya, uda kenapa memandang kami begitu.” kata Basri.
”Hmmm … tiba-tiba aku ingat isi mimpi itu, padahal dari saat bangun sesudah mimpi itu sampai tadi aku sama sekali tidak ingat bermimpi seperti itu. Tapi setelah aku berusaha ingat-ingat kembali baru aku teringat kembali mimpi itu.”
”Begitu yah, uda. Berhubung uda sudah ingat mimpinya, bisa uda ceritakan kepada kami ?” kata Masnan tidak sabar.
”Seperti yang aku katakan tadi, aku didatangi seorang pria tua sekali dan seekor harimau besar. Mereka berdua mengajak aku duduk di sebuah pohon yang rindang sekali, setelah itu pria itu memperkenalkan dirinya, dia bernama Satyawarman dengan gelar Sutan Bagindo Inyiak dan harimau di sebelahnya bernama Sulaiman dengan gelar Panglima Harimau.”
”Sutan Bagindo Inyiak dan Panglima Harimau, kata uda Bumi?” potong Masnan.
“Iya benar, kenapa Masnan ?”
”Aku pernah mendengar legenda tentang mereka dari kakekku yang juga diceritakan oleh kakeknya, mereka merupakan orang-orang sakti yang mumpuni sekali di jamannya. Satyawarman masih keturunan raja, tadinya dia yang merupakan calon kuat pengganti raja tapi entah karena apa tiba-tiba dia menghilang dan tidak kedengaran lagi beritanya, tidak lama panglima kerajaan saat itu yang bernama Sulaiman juga menghilang.”
”Aku tidak pernah mendengar kisah ini sebelumnya, wah ini tambah seru saja, aku jadi tambah penasaran, hayo uda Masnan lanjutkan, untuk sementara uda Bumi dengarkan dulu, sesudah itu giliran uda Bumi yang ceritakan mimpinya.” kata Basri.

”Baiklah aku lanjutkan. Tidak lama setelah hilangnya mereka, di dunia persilatan muncul seorang sakti yang suka menumpas kejahatan dan selalu didampingi oleh seekor harimau. Setiap kemunculan orang itu selalu sendirian dan tidak disangka-sangka tiada yang sadar atau tahu kehadirannya, tapi jika terjadi pengeroyokan dalam jumlah besar maka akan ada harimau yang membantunya.” kata Masnan sambil tangannya mengambil gelas kopi untuk meminumnya, karena dia merasakan tenggorokannya mulai kering karena bicara terus.

Kemudian dia melanjuti ceritanya,” Kejadian ini tambah menggemparkan ketika tentara kerajaan mengalami musibah, bertempur melawan musuh dan mereka terdesak hebat. Tiba-tiba mereka mendapat bantuan dari orang itu dan harimaunya, dan yang lebih anehnya lagi baik orang sakti itu dan harimaunya sangat ahli dalam strategi perang. Orang sakti itu bisa memberikan aba-aba dengan menggerak-gerakan bendera kerajaan untuk melaksanakan perintahnya kepada prajurit secara tepat dan suara auman yang dikeluarkan harimau itu merupakan cara komunikasi perang yang suka digunakan Panglima Sulaiman untuk memulai melaksanakan aba-aba dari bendera.”
”Jadi walaupun mereka tidak melihat kedua orang itu tapi mereka merasa harus mematuhi dan melaksanakannya. Saat para prajurit ditanya, kenapa bisa mematuhi aba-aba dan perintah itu, mereka berkata, mereka merasa seperti sedang bertempur didampingi oleh Pangeran Satyawarman dan dipimpin oleh Panglima Sulaiman. Memang kedua orang yang menghilang itu merupakan para ahli strategi perang, setiap peperangan yang dipimpin oleh mereka selalu berakhir dengan kemenangan. Entah mulai kapan beredar berita bahwa orang sakti itu adalah Satyawarman dan harimau itu adalah jelmaan panglima Sulaiman.
Tapi benar atau tidaknya tiada yang tahu karena setiap orang yang pernah bertarung dengan mereka, tidak pernah melihat jelas wajah orang sakti itu dan mereka juga tidak pernah melihat adanya harimau di sekitar mereka, hanya mendengar suara aumnya saja, lalu tiba-tiba di saat-saat genting mereka bisa melihat berkelabat bayangan harimau di dekat mereka, dan harimau itu juga jago bertempur, banyak diantara mereka terkapar kesakitan kena terjang dan cakar harimau, sedangkan yang pernah bertempur langsung dengan orang sakti itu, selalu melihat gerakan silatnya seperti gerakan harimau. Makanya oleh orang-orang aliran sesat mereka dijuluki Bayangan Setan dan Harimau Setan, sedangkan kerajaan dan aliran putih memberi mereka julukan Sutan Bagindo Inyiak (panggilan hormat untuk harimau) dan Panglima Harimau, karena jika benar mereka itu adalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman maka julukan ini sangat cocok dengan mereka.”

Kembali tangan Masnan meraih gelas kopinya, tapi sayang kopi di gelas sudah habis, dia meletakan kembali gelasnya. Segera Bumi berteriak,”Uni Anikkk, tolong bawakan kopi ke sini.”

Tergopoh-gopoh pelayan yang bernama Anik itu keluar dari dapur sambil membawa ceret kopi yang masih keluar asap dari corongnya.

”Pak, ini kopinya.”

”Tolong uni tuangkan ke gelas itu dan sesudahnya letakan di tengah meja, biar nanti kami bisa ambil sendiri.”

Setelah dia menuangkan kopi ke gelas Masnan, langsung Masnan mengambil dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya.
”Ah nikmat rasanya. Nah itulah sekelumit cerita yang aku dapatkan dari kakekku, mengenai siapa gerangan orang sakti dan harimau itu, siapa sebenarnya mereka tidak ada yang tahu sampai saat ini. Makanya mendengar cerita uda didasarkan dari pengakuan mereka, aku jadi yakin akan kisah mereka itu. Uda Bumi, sekarang giliranmu menyambung ceritamu tadi.”
”Tapi mengapa mereka datang dan bicara pada uda Bumi, apa maksudnya?, Uda lanjutkan lagi ceritanya, kami penasaran.” tanya Kahar
Tiba-tiba,”Uuuaaahhhh. Bunda, aku ngantuk. Ayah, boleh aku kembali ke kamar duluan?” kata Aswin dengan suara yang terdengar mengantuk.

”Eh yah, sekarang sudah jauh malam, iya, Aswin kamu sudah boleh tidur. Siti, kamu bisa mengantarkan Aswin ke kamarnya, kalau kamu sudah mengantuk boleh tidur juga.”
”Baiklah uda, permisi uda semua, kami mau tidur dulu, hayo Aswin ucapkan selamat malam.”
”Selamat malam ayah dan paman semua, sampai jumpa besok pagi.”
Sebenarnya Siti masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita Bumi, tapi dia merasa malu bergabung dengan mereka, kalau tadi ada Aswin jadi tidak terlalu kentara kehadirannya diantara mereka, tapi setelah Aswin tidak ada dia merasa tidak ada tameng dia melawan rasa malunya karena senang Kahar suka curi-curi pandang ke arahnya. Dia pikir lebih baik dia tidur dan mungkin nanti bisa tanya ke Bumi kelanjutan ceritanya.
Kahar yang melihat Siti hendak berlalu untuk pergi tidur merasa senang dan kecewa juga, senang karena dia bisa lebih santai melepaskan ketegangannya dan kecewa karena tidak bisa memandang wajah sang pujaan hati. Tapi dia juga tahu besok dan sampai beberapa hari lagi masih bisa memandang wajah Siti.
”Selamat malam juga Aswin, Siti!” balas Basri.
”Hmmm… selamat tidur.” kata Masnan.
”Baiklah, selamat malam, Siti, cepat kamu gendong dan bawa Aswin ke dalam, matanya sudah terpejam.” kata Bumi.
”Selamat malam.” kata Kahar pelan dan matanya tidak berani memandang Siti, hanya memandang punggung Aswin saja.

Melihat itu Bumi merasa geli dan ingin menggoda adiknya, tapi dia menahan karena tidak enak mempermalukan Kahar di depan yang lain dan lagian dia belum tahu apakah Siti juga menyukai Kahar, kalau dilihat dari sikap Siti ada tanda-tanda ke arah itu tapi karena memang Siti orangnya pendiam dan pemalu maka tanda-tanda itu terlalu samar. Dia ingin mempertegas dulu perasaan Siti sebelum mulai menggoda mereka berdua di depan yang lain, karena dia tidak ingin menyakiti perasaan kedua orang yang disayangi seperti adik sendiri ini.

Setelah Siti dan Aswin berjalan menuju ke dalam, Bumi segera mengangkat ceret untuk menuangkan isinya ke gelas yang lain dan gelasnya. Mereka sama-sama angkat gelasnya dan minum kopi yang sudah mulai dingin itu, lalu meletakan kembali gelasnya ke meja.
”Uda, sekarang sudah bisa lanjutkan ceritanya, terus terang saja hatiku mengatakan bahwa cerita uda itu ada sangkut pautnya juga dengan kami.”
”Eh Kahar, kenapa kamu bisa berpikir begitu?” kata Basri.
”Coba uda pikir, kenapa uda Bumi tiba-tiba bisa ingat mimpinya setelah kita mendesak dia dan uda lihat tidak tatapan aneh dari uda Bumi kepada kita tadi ?”

”Hmmm benar juga, tapi anehnya kenapa kamu bisa menyangkutkan mimpi uda Bumi dengan kita ?” kata Masnan.
”Uda Bumi, benar tidak perkataanku, atau instingku salah ?”
”Kahar, engkau memang pria pintar, tidak salah kamu dipercayai kerajaan menjadi penyelidik, karena kehebatan cara kamu berpikir untuk merangkai-rangkai kejadian yang terjadi.”
”Jadi maksud uda Bumi, apa yang dikatakan Kahar itu benar ? Apa mimpi uda ada sangkutan dengan kami !” kata Basri kaget juga, dalam hati dia harus mengakui kepintaran adiknya ini, dia memang cerdik dan dengan cepat bisa membaca situasi tapi dibandingkan dengan Kahar, dia merasa rendah diri karena kemampuan adiknya dalam merangkai perestiwa-perestiwa yang terjadi sangatlah hebat ini menandakan kecermatan dan ketelitian dia dalam memandang sebuah persoalan atau kejadian. Dia hanya cermat dan teliti selama itu menyangkut dengan uang, di luar itu sepertinya otaknya tidak bisa bekerja baik. Dia tidak iri akan kehebatan adiknya ini karena dia tahu setiap orang punya kelebihan dan kelemahan juga, yang jelas kalau menyangkut uang adiknya kalah jauh dari dia.
Makanya dia bisa sekaya sekarang karena kecerdikan dia dalam mengelola usaha dan keuangannya, semua saudaranya mengakui kehebatannya karena itu mereka mempercayai dia untuk mengelola keuangan mereka. Uang mereka digabungkan dan ditambah dengan uangnya, dia buka sebuah toko keperluan sehari-hari di Teluk Kabung, dan usaha ini sangat laris dan banyak pelanggan yang datang ke tempat ini. Selain tentunya usaha-usaha dia yang lain tersebar sampai ke Muaro Bungo (Jambi) dan Sinabang (Sumatera Utara).

Kali ini juga pertemuan mereka sebenarnya pertemuan rutin setiap tahunnya untuk membahas masalah toko dan pembagian keuntungan. Kebetulan pertemuan sekali ini dilakukan di tempat Bumi, setelah beberapa kali dilakukan di tempat dia. Mereka sering juga bertemu tapi biasanya karena ada persoalan-persoalan yang mereka membutuhkan bantuan yang lain. 2 bulan yang lalu mereka juga baru bertemu karena Kahar meminta bantuan mereka untuk mencari informasi mengenai perampok bernama Urang Rante (Orang Rantai julukan yang diberikan kepada narapidana, karena kaki mereka diikat dengan rantai) dari Sitiung.
“Benar sekali, supaya kalian tidak penasaran sekarang aku lanjutkan ceritanya. Setelah dia memperkenalkan diri dia melanjutkan pembicaraan…..” Wali Bumi mulai membayangkan kejadian di mimpinya dan menceritakan kepada saudaranya.

Seperti yang diceritakan Bumi, mereka duduk di bawah pohon yang rindang, di atas akar pohon yang menonjol keluar dan keadaan di sekeliling mereka hijau dipenuhi dengan rumput dan pepohonan lainnya. Suasana sangat tenang dan teduh sekali, Bumi tidak tahu di mana mereka berada.

”Cucuku, Bumi, mungkin kamu kaget dengan pertemuan kita. Baiklah, aku akan langsung saja bicara terus terang supaya kamu tidak tambah bingung dengan kehadiran kami. Bumi, perlu kamu ketahui anak laki-laki kamu itu adalah anak yang terbekati oleh Yang Maha Esa. Dia merupakan anak yang dipilih untuk melawan sang angkara murka, seperti ketika jaman aku masih hidup, akupun ditakdirkan untuk melawan iblis yang dilahirkan untuk memberi kekacauan di dunia ini. Dan perlu kamu ketahui lawan-lawan anakmu sudah dilahirkan, bahkan diantara mereka ada yang sudah dilahirkan 1 tahun lebih awal dari anakmu. Tapi jika kamu bertanya kepadaku siapa saja mereka, aku tidak bisa memberi jawaban karena itu merupakan rahasia alam dan kehendak sang Maha Kuasa. Aku hanya tahu bahwa aku harus mempersiapkan anakmu dan beberapa anak lain untuk menghadapi mereka.” kata Pangeran Satyawarman dengan menghela nafas dalam.
”Maksud kakek, ada beberapa anak selain anakku yang akan menumpas kejahatan ? Siapa mereka ?” kata Bumi.
”Bumi, kamu sudah mengenal mereka, yaitu Bastian, Saiful, Burhan, dan Karim, mereka juga murid-muridmu.”
”Hah, mereka ?” kata Bumi tercengang.

”Ini semua sudah diatur oleh alam, sejak kecil mereka sudah dipertemukan agar bisa saling mendekatkan diri dan sehati dalam menghadapi sang angkara murka. Karim akan menjadi patih kanan bertugas sebagai mata-mata, sedangkan Saiful yang akan menjadi patih kiri bertugas sebagai ahli pembuat senjata rahasia, Burhan yang akan menjadi pemimpin dari kelompok ini, Bastian akan menjadi penasehat sekaligus ahli strategi dan Aswin yang sebenarnya pemimpin utama tetapi karena karakternya suka seenaknya sendiri maka akan susah untuk menyuruh dia memimpin tim ini. Mereka semua akan kami didik secara langsung setelah 10 tahun mereka digembleng oleh guru-guru mereka yang berarti kemampuan dasar mereka sudah menjadi lebih matang.
”Jadi, maksud kakek, kelima anak itu akan menjadi pewaris ilmu harimau kalian, dan mereka nantinya akan mempunyai kemampuan yang berimbang ?!.” tanya Bumi.

”Mengenai apakah kemampuan mereka berimbang kelak, itu juga masih merupakan rahasia alam, yang aku tidak dapat meramalkannya. Yang jelas kami menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa bahwa kami harus melatih kelima anak itu sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Tetapi sebelum mereka kami latih, mereka harus melewati tahap persiapan akan dasar-dasar tenaga dalam dan ilmu-ilmu silat. ”
”Maafkan aku, kakek, aku masih tidak mengerti maksud kakek karena terus terang saja kepintaran dan kecerdikanku pas-pasan saja.” kata Bumi malu-malu.
”Ha..ha…ha… Bumi, aku senang kepada manusia seperti kamu, polos, jujur, apa adanya dan tidak malu untuk bertanya. Baiklah, aku akan menjelaskan lebih lanjut padamu.” kata Pangeran Satyawarman.

”Bumi, dalam wangsit yang aku terima, kelima anak ini sebelum di didik oleh kami, akan didik terlebih dahulu orang lain yang sudah digariskan untuk mempersiapkan mereka supaya kelak bisa menerima ilmu harimau dari kami. Adapun anakmu sudah dipilih oleh Datuak Inyiak Balang untuk dijadikan pewarisnya, ini merupakan suatu keberuntungan bagi anakmu karena dia juga merupakan murid dari perguruan kami sehingga mungkin kelak anakmu tidak akan mengalami kesulitan untuk ilmu-ilmu yang akan kami wariskan.”
Kaget sekaligus bangga Bumi mendapat tahu bahwa puteranya dipilih oleh pendekar nomor satu seluruh ranah Minang untuk dijadikan muridnya, karena penasaran dia mengajukan pertanyaan kepada Pangeran Satyawarman.
”Kakek, kenapa bisa pendekar nomor satu itu memilih anakku sebagai pewarisnya, apakah atas petunjukmu ?” tanya Bumi.

”Bukan Bumi, kami tidak pernah memberikan petunjuk apapun kepada dia untuk mengambil puteramu sebagai pewaris. Tapi perlu kamu ketahui cucu muridku Datuak Jangek Kuniang mempunyai sebuah keahlian khusus yang dia dapat dari tanah seberang yaitu ilmu perbintangan dan meramal. Jadi dialah yang menuntun cucu muridnya Datuak Inyiak Balang untuk mengambil Aswin sebagai muridnya. Kakek Inal yang kelak disebut-sebut anakmu itu adalah dia, nama dia waktu mudanya adalah Zainal, tapi dia menyebut dirinya Inal.”
”Aku tahu Bumi, kamu pasti senang sekali anakmu menjadi murid tokoh utama di ranah ini.” kata Sulaiman dengan tiba-tiba.
Bumi sampai terlonjak kaget karena tiba-tiba mendengarkan suara manusia yang dikeluarkan oleh seekor harimau. Pangeran merasakan keterkejutan Bumi dan merasa kasihan melihat wajahnya yang memucat melihat ke arah Sulaiman.
”Kakanda Sulaiman, janganlah kamu menakut-nakuti Bumi, rubahlah penampilanmu menjadi manusia kembali.” kata Pangeran dengan pelan.
”Baiklah, Yang Mulia Pangeran”, sahut Sulaiman.

Wessss… bummm…asap timbul mengelilingi harimau itu, tiba-tiba di tempat tadinya ada seekor harimau duduk, sekarang berubah menjadi seorang pria seumuran Bumi yang gagah perkasa dengan kumisnya yang melintang menambah keangkeran pemilik wajah itu.

Bumi menatap terpana atas kejadian itu, sambil mengucek-ngucek matanya dia memandang wajah pria gagah itu. Wajah itu mirip sekali dengan kakek moyang isterinya, yang lukisannya tergantung di rumah mertuanya.
“Jangan kaget Bumi, memang lukisan yang tergantung di rumah mertuamu itu adalah aku. Jadi anakmu masih mewarisi darahku di tubuhnya dan darah paduka Pangeran. Karena mertua laki-lakimu merupakan hasil pernikahan dari keturunanku dan keturunan paduka Pangeran. Mungkin kau bertanya dalam hati kenapa mertuamu hanya memiliki lukisanku tapi tidak mempunyai lukisan paduka Pangeran?, itu dikarenakan lukisan paduka Pangeran disimpan di istana Pagaruyuang dan tidak diperkenankan dipamerkan kepada khalayak umum.”

Bumi semakin terheran-heran dan kagum kepada kedua orang sakti ini yang bisa meraba apa yang menjadi pemikiran dia. Sekaligus dia semakin merasa bangga karena pernah menikahi keturunan dari kedua orang hebat ini. Sekarang dia tidak heran lagi akan kehebatan mertua laki-lakinya itu karena dia merupakan keturunan dari kedua orang hebat ini.
“Tapi Bumi, kamu jangan besar kepala dengan semua ini dan lupa diri, biar bagaimanapun dirimu adalah dirimu, pada saat kamu meninggal nanti segala embel-embel yang melekat padamu kini tiada artinya, jadi selalu mawas diri dan rendah hatilah selalu seperti sekarang ini jangan berubah.” kata panglima Sulaiman.

“Aku berjanji kakek, aku akan selalu mawas diri dan tidak tinggi hati dengan semua yang ada padaku. Jika aku melanggarnya kakek berdua boleh menghukum aku, dan aku tidak akan melawan sedikitpun.” Sahut Bumi.
“Baguslah kalau begitu, kembali ke masalah kita tadi, Bumi, sebagaimana yang telah aku katakan tadi bahwa anakmu akan menjadi murid dari cucu muridku, oleh karena itu aku minta kau mengizinkannya dan kau boleh tetap mewarisi ilmu pamungkasmu kepada anakmu itu. Ilmu-ilmu apapun yang diberikan kepada anakmu tidak akan menjadi masalah bagi dia karena memang dia dipersiapkan sedemikian rupa untuk bisa menerima ilmu-ilmu yang kelak akan kami wariskan kepadanya dengan harapan nantinya dia benar-benar mempunyai kemampuan dan kehebatan silat maupun tenaga dalam yang bisa menandingi sang angkara murka itu.”
“Ilmu-ilmu yang kami berikan kepadanya nanti merupakan ilmu yang sangat berat dan dibutuhkan kecerdasan pikiran dan kematangan tindakan, juga harus dilengkapi dengan hati yang tulus dan berbudi luhur. Oleh karena itu kami mengharapkan kau bisa menanamkan budi pekerti dan ketulusan hati padanya sejak dini agar kelak dia dewasa, dia akan menjadi seorang pendekar yang berbudi luhur dan membela kebajikan.” Kata Sulaiman.
Sekarang setelah Panglima Sulaiman berubah wujud kembali menjadi manusia, lebih banyak beliau yang berbicara sedangkan Pangeran Satyawarman mendengarkan saja.
Sambung panglima Sulaiman,”Kamu mempunyai kesempatan untuk mendidik anakmu sampai dia berusia 8 tahun saja, karena setelah itu kami akan meminta Zainal membawanya pergi untuk dilatih lebih lanjut di perguruan kami supaya dia lebih konsentrasi.”
“Kamu tentu juga ingin tahu mengenai nasib anak-anak yang lain?, sebelumnya perlu engkau ketahui kelak banyak orang yang ingin menjadi guru untuk anakmu termasuk adik-adik angkatmu. Tapi takdir menentukan lain adik-adik angkatmu akan menjadi guru dasar bagi anak-anak yang lain. Tugasmu adalah mempertemukan adik-adik angkatmu dengan anak-anak itu, biarkan mereka memilih diantara anak-anak itu siapa yang akan menjadi murid mereka. Khusus Karim, engkau akan dapat mendidiknya bersama dengan Aswin karena dia harus engkau yang mendidiknya langsung. Setelah mereka mendidik ketiga anak yang lain selama 5 tahun, kamu harus membawa mereka kembali ke sini, karena akan datang guru lain yang akan mendidik mereka.”
Sejenak Sulaiman terdiam setelah bicara panjang lebar atas uraiannya, suasana terasa hening, kemudian terdengar suara Bumi bertanya.

“Kakek, bolehkah aku bertanya lebih lanjut?” tanya Bumi.

“Apakah engkau ingin tahu kenapa Karim harus engkau yang didik ? Dan siapa gerangan yang akan menjadi guru selanjutnya dari anak-anak itu ?, Benar tidak, Bumi ?”

Kembali Bumi merasa sedikit gentar karena tokoh-tokoh di depan dia itu bisa membaca pikirannya, sehingga dia merasa harus berhati-hati kalau memikirkan sesuatu, takut mereka marah setelah tahu apa yang dia pikirkan.

“Bumi, kamu jangan gentar karena kami bisa membaca pikiran kamu, jika pikiranmu bersih engkau tidak harus takut dengan hal ini.” Kata Pangeran Satyawarman dengan senyum dikulum.

“Baiklah Bumi, aku menjawab pertanyaanmu itu supaya kamu tidak penasaran. Mengenai kenapa Karim harus kamu didik dikarenakan kami tahu kamu adalah mata-mata bagi kerajaan di masyarakat (istilah jaman sekarangnya agen rahasia), Tidak banyak yang tahu mengenai pekerjaanmu ini bahkan keluarga dan para saudara angkatmupun tidak mengetahuinya. Ini saja sudah membuktikan kehebatan kamu sebagai seorang mata-mata yang diutus langsung oleh baginda. Kamu bisa menipu orang lain dengan penampilan kamu yang terkesan lugu dan sederhana itu.” Kata Sulaiman dengan tersenyum simpul.

Ternyata Bumi ini mempunyai pekerjaan sampingan selain sebagai wali nagari, tidak heran dia sering pergi ke luar kota karena dia harus pergi menyelesaikan tugas yang diberikan baginda dan melaporkan hasilnya. Inilah salah satu lagi kehebatan dari Bumi adalah dia bisa menyembunyikan identitas dirinya dari orang lain. Memang kehebatan dari seorang mata-mata itu diukur dengan kemampuan dia membaur dalam masyarakat tanpa mereka menyadari siapa sebenarnya dia. Dalam hati Bumi semakin salut kepada kedua tokoh mumpuni ini, karena mereka bisa mengetahui apa yang dikerjakannya.
“Kami ingin Karim mempunyai kemampuan seperti kamu, kami juga tahu mendidik anak itu untuk menjadi sehebat kamu tidaklah mudah, tapi tidak apa kami ingin dia mendapatkan dasar-dasarnya dari kamu, setelah dia mendapat didikan dari kamu selama 5 tahun, akan tiba masanya sama dengan anak-anak lain, dia bertemu dengan guru berikutnya. Sedangkan siapa gerangan guru selanjutnya bagi anak-anak itu, ada beberapa orang yang kamu pernah dengar namanya seperti Datuak Saluang Maut, Pandeka Tinju Lautan dari Pulau Bulan, Dewi Kipeh (Kipas) Matohari, Dua Serigala Putih dari Sungai Dareh, dan ada beberapa yang lain.” Kata Sulaiman.

“Wah, kakek, mereka adalah tokoh-tokoh legendaries berpuluh tahun yang lalu, sungguh hebat mereka masih hidup sampai sekarang, mungkin umur mereka sudah di atas 80 tahun. Kakek, bagaimana dengan Aswin, apakah dia juga akan menerima pendidikan selanjutnya dari guru lain yang hebat-hebat juga seperti nama yang telah kakek sebutkan tadi ?”

“Khusus untuk anakmu ada sedikit perbedaan, karena dia sudah dipilih langsung oleh Zainal, maka pendidikannya akan terus berlanjut tanpa terputus. Dan kau jangan kuatir anakmu akan kalah hebatnya dibandingkan dengan anak-anak yang lain, karena sewaktu berada di tempat Zainal nanti, dia akan bertemu dengan guru-gurunya yang lain.” kata panglima Sulaiman.
“Syukurlah Aswin akan dididik oleh orang hebat juga, aku berharap dia tidak mengecewakan kelak.”.

“Setelah mereka dididik selama 5 tahun oleh guru-guru selanjutnya, maka kami akan datang menjemput mereka untuk kami didik Tentang perhitungan 5 tahun itu dimulai saat kedatangan adik-adik angkatmu ke rumahmu dan Aswin serta Bastian berusia 5 tahun, sedangkan anak yang lain berusia 6 tahun. Jadi tepat di usia 15 tahun nanti Aswin akan mulai kami didik sendiri.”
Tidak terasa berapa lama mereka bicara, tiba-tiba terdengar kokok ayam memanggil sang surya untuk memancarkan sinarnya di ranah minang ini.
“Bumi, itu pertanda sudah saatnya kami pergi, ingatlah baik-baik pesan kami ini kepadamu, kami yakin kamu mampu melaksanakannya. Setelah ini kamu akan melupakan pembicaraan kita ini, pada saatnya nanti kamu akan mengingatnya kembali dan kami harap kamu bisa menceritakan hal ini pada adik-adik angkatmu tetapi hanya hal-hal yang memang perlu mereka ketahui saja, kami yakin kamu bisa melaksanakannya secara bijaksana.” Kata Pangeran Satyawarman dengan nada halus.

Tapi entah kenapa Bumi merasakan nada halus itu sepertinya mempunyai kekuatan magis membuat dia mematuhi perintah terselubung itu.

“Sekarang kembalilah kamu, Bumi, laksanakanlah tugasmu dengan sebaik-baiknya, kami mengandalkanmu agar bisa terselesaikan dengan baik sesuai permintaan Sang Maha Kuasa.”
Setelah itu keadaan tempat mereka duduk dilingkupi oleh kabut, dan kedua tokoh itupun menghilang. Dan tiba-tiba Bumi terjaga dari tidurnya tanpa dia tahu apa yang membuat dia terbangun secara mengejutkan itu.

“Begitulah mimpiku itu adik-adikku, setelah mereka menghilang dan aku terjaga tapi aku tidak bisa mengingat mimpi itu sampai tadi kita berbicara. Mungkin sudah saatnya semua tahu apa yang akan terjadi nantinya. Dan aku senang ternyata anakku akan menjadi murid tokoh-tokoh utama yang mumpuni”,kata Bumi, tentunya ada beberapa bagian dari mimpi itu yang tidak dia ceritakan kepada yang lain seperti bahwa dia seorang mata-mata, kakek Inal yang dimaksud anaknya adalah Datuak Inyiak Balang, dan ada beberapa bagian lagi sesuai dengan nalurinya untuk tidak menceritakannya.
“Tokoh utama di dunia persilatan ? Siapa gerangan dia uda, apa mereka tidak katakan siapakah orang menjadi guru anakmu itu ?” tanya Masnan penasaran.
”Mereka hanya bilang nanti pada waktunya kita akan tahu siapa gerangan tokoh itu.”

Semua terdiam mendengar jawaban Bumi, mereka masih merasa takjub mendengar kisah mimpi Bumi yang sudah meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, tapi tetap masih terselubung misteri.

”Uda, apa anak-anak yang lain tinggal di dekat sini? Dan apakah masih mempunyai orang tua ?”

”Mereka memang tinggal di sini, Karim tinggal bersamaku dan kedua orang tuanya ada di tanah seberang, kedua orangtua Saiful masih ada asli penduduk sini. Sedangkan Burhan anak yatim piatu yang sekarang dibesarkan oleh keluarga mamaknya (paman/kakak dari ibu), Bastian hidup bersama ibunya. Mengapa engkau tanyakan hal ini Basri ?”

”Uda, seperti yang dikatakan para sesepuh, kalau memang benar aku akan mengambil salah satu dari anak-anak itu menjadi murid, pasti aku akan membawa dia pergi, apakah orang tuanya tidak keberatan dengan itu ?”
”Benar juga sih, tapi mungkin kalau diberi penjelasan mereka akan mengerti dengan sendirinya. Kalau perlu aku akan bantu menjelaskan kepada penanggung jawab mereka.”

Terdengar di luar kentongan dipukul sebanyak tiga kali, ini berarti sudah hampir menjelang subuh. Mereka memerlukan istirahat dan perenungan atas kejadian dari tadi siang sehingga malam begini, agar mereka lebih bisa menerima situasi yang telah terjadi sekarang ini.
”Dik, kalian pasti sudah lelah dan butuh istirahat, bagaimana kalau kita semua pergi tidur dulu, pembicaraan ini akan kita lanjutkan nanti, Aku juga akan mengundang anak-anak itu datang ke sini supaya kalian bisa melihat mereka dan siapa tahu mereka memang berjodoh dengan kalian.”
”Baiklah uda, aku pikir juga itu yang terbaik, dengan istirahat siapa tahu kita bisa lebih berpikiran jernih dan membantu permintaan dari para sesepuh itu.” sahut Kahar.
”Selamat malam uda, kami tidur dulu.” kata Masnan.
”Selamat malam juga, mudah-mudahan besok tidak terjadi hal-hal yang mengagetkan seperti hari ini.” sahut Bumi.

Segera semua berlalu dan berjalan menuju kamar mereka masing-masing sawmbil membawa pemikiran yang bermacam-macam sehubungan dengan mimpi dari Bumi itu. Tak lama suasana rumah semakin hening dan tenang, yang terdengar hanyalah suara koor para jangkrik untuk mengiringi sang rembulan yang semakin lama semakin bergerak menuju ke peraduannya.
Nun jauh di luar sana ada seseorang yang tidak tidur malam ini, bahkan di benaknya terjadi kesibukan merancang rencana ini itu untuk menggemparkan dunia persilatan, sebentar terlihat keningnya berkerut dalam dan mata yang berkilat-kilat penuh kebencian, sebentar berubah cerah bahkan sampai membuat dia tertawa kecil dengan mata yang memancarkan kelicikan dan kekejaman.
Di hadapan dia terdapat sebuah tempat tidur yang indah dengan 4 tiang penyangga yang terdapat ukiran ular yang sedang merayap naik dan melilit tiang itu. Sungguh sebuah ukiran yang sangat indah dan tidak ternilai harganya. Dikelilingi dengan kelambu yang putih berenda transparan yang sangat halus sekali jahitannya. Ruangan tidur inipun besar, dindingnya dihiasi dengan lukisan indah yang dibuat oleh pelukis terkenal dari seberang. Semua perabotan yang ada baik bangku, meja, lemari yang terdapat di kamar itupun merupakan hasil pahatan sangat halus dan indah, di setiap kakinya ada ukiran ular yang sedang membelilit kaki meja atau bangku tersebut.
Sungguh yang empunya kamar pastilah orang kaya raya melihat isi dalam kamar tersebut penuh dengan hasil karya manusia yang luar biasa indahnya. Dari semua yang indah ini ada satu hal yang mengganggu yaitu wajah orang yang ada di kamar itu, wajahnya sungguh menyeramkan dengan adanya bekas luka yang memerah menjijikan karena masih berair nanah di sekeliling pinggiran luka tersebut, kerusakan wajah itu dari kening kanan sampai tengah dagu, ditambah lagi dengan mata kanannya yang sudah tidak ada lagi sehingga terlihat hanya rongga hitam yang mengerikan.

Sebaliknya wajah di sebelah kirinya merupakan wajah seorang pria yang sangat tampan dengan mata hitam yang mempunyai pinggiran kebiru-biruan dan berbulu mata hitam lentik. Pasti dulunya sebelum wajah itu rusak, dia merupakan seorang pria yang sangat tampan sekali, entah apa penyebab sehingga wajah itu sekarang begitu mengerikan. Orang ini mempunyai tubuh tinggi kekar dengan warna kulit yang sawo matang, tapi sayang kakinya kecil tidak sepadan dengan besar tubuhnya.
Di atas tempat tidur itu terlihat sosok bocah kecil yang sedang tertidur pulas, raut wajahnya tampan dengan hidung yang tinggi mancung dan berkulit terang. Wajah itu terlihat tidak seperti wajah orang setempat, lebih tepat dikatakan anak ini bukanlah dari ranah ini tapi dari dunia lain sana. Sesekali orang yang sedang duduk itu melemparkan pandangannya kepada bocah ini dengan tatapan memuja. Sungguh sebuah pemandangan yang ganjil sekali, anak kecil dengan raut wajah yang mempesonakan, didampingi oleh orang dewasa yang bertampang mengerikan benar-benar bumi dan langit perbedaannya.
Siapakah gerangan kedua orang ini, apakah hubungannya dengan 5 harimau muda kita ? Bagaimana sebenarnya hubungan Kahar dan Siti ?